Bagikan:

BANDA ACEH - Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh mencatat fenomena pergerakan atau longsoran tanah di Kampung (desa) Bah Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus membesar hingga melebihi 30 ribu meter persegi (m²).

"Untuk luasan saat ini kami hitung sudah di atas 30.000 m². Kalau 2021 masih 20.199 m², jadi ada penambahan 10.000 m² lebih," kata Kabid Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM AcehIkhlas dilansir ANTARA, Selasa, 3 Februari.

Ikhlas menegaskanlongsoran tersebut bukansinkhole, tetapi fenomena erosi bawah permukaan (piping erosion) yang diakibatkan erosi oleh air tanah dan air permukaan, serta disebabkan kondisi tebing yang curam dan dapat dipicu gempa bumi dan hujan.

Di sisi lain, kata dia, Badan Geologi Kementerian ESDM juga sedang melaksanakan kajian untuk pemutakhiran datadan dari analisis awal dapat disimpulkan fenomena tersebut bukansinkhole.

"Badan Geologi sudah menyatakan itu bukansinkhole, melainkanpiping erosionatau erosi buluh/erosi bawah permukaan," ujarnya.

Ikhlas mengatakanDinas ESDM Aceh baru-baru ini juga kembali melakukan peninjauan ke lokasi longsoran tersebutdan mendapatkan beberapa catatan yang perlu ditindaklanjuti.

Berdasarkan hasil kajian sementara, kata dia, pergerakan tanah di sana disebabkan materialnya tersusun di atas tufa vulkanik dari formasi Geureudong (batuan gunung api) yang bersifat lepas, berpori, sehingga mudah menyerap air dan jenuh air.

Kemudian, terdapat rembesan atau aliran air bawah tanah yang mengerosi secara lateral. Saluran drainase dapat meluap dan membebani tanah di sana, terutama saat datangnya musim penghujan.

"Lalukondisi tebing yang curam, hampir tegak, menambah ketidakstabilan lereng, serta dapat dipicu oleh hujan dan juga dapat gempa bumi, sehingga lerengnya tidak stabil," ujarnya.

Terkait kondisi itu pihaknya mengimbau semua pihak terkait, terutama unsur pemerintahandapat melakukan sosialisasi kepada masyarakat atas kerawanan bencana longsor susulan, tidak mendekati area longsoran, terutama pada saat musim penghujan karena ketidakstabilan lereng.

KemudianPemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tengah dapat merelokasi jalan ke area yang lebih aman, memindahkan drainase yang dapat membebani tanah di area longsoran tersebut, sehingga tidak membuat tanahnya cepat bergerak.

Di sisi lain, kata Ikhlas, juga perlu dilakukan kajian geologi teknik untuk pembangunan infrastruktur di area yang baru nantinya, termasuk melakukan mitigasi struktural (penanaman tebing, penguatan /penyangga tebing, dan pengaturan drainase).

Selanjutnyaperkuat mitigasi non-struktural seperti edukasi, sosialisasi kebencanaan sangat diperlukan, dan kepada masyarakat agar dapat mengikuti arahan pemerintah daerah terkait bencana longsoran tersebut.

"Terakhir, harus dilakukan pemantauan perkembangan longsoran secara berkala, terutama apabila ditemukan retakan baru memanjang dan melebar, serta laporkan segera ke instansi berwenang," kaya Ikhlas.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan BPBD Aceh Tengah dari berbagai sumber, longsoran tanah berawal dari berbentuk lubang kecil sejak awal tahun 2000-an, dan terus bergerak secara bertahap sejak 2004.

Dari laporan masyarakat sekitar, pada 2006 longsoran tersebut sudah pernah memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik (penghubung Kabupaten Aceh Tengah - Bener Meriah).

Bahkanpernah terjadi relokasi tempat tinggal masyarakat di Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada tahun 2013-2014. Rehabilitasi dan rekonstruksi pernah dilakukan sebanyak tiga tahapan pada periode tersebut.