Bagikan:

JAKARTA - CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani memastikan lembaganya akan tetap menjaga independensi seiring dengan rencana menjadi pemegang saham PT Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah proses demutualisasi rampung.

Rosan menegaskan, secara mandat Danantara memiliki ruang untuk berinvestasi baik secara langsung maupun tidak langsung, termasuk di pasar modal. Namun, setiap keputusan investasi akan tetap didasarkan pada evaluasi ketat, terutama dari sisi fundamental dan valuasi.

“Kita memang boleh berinvestasi secara langsung dan tidak langsung, baik sesuai dengan policy kebijakan kita di all different classes of asset, public, dan tentunya kita tetap akan independen,” ujarnya saat ditemui di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Minggu, 1 Februari.

Menurut Rosan, Danantara juga akan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum masuk ke pasar modal. Dia bilang, lembaganya hanya akan masuk ke pasar modal jika aspek harga dinilai menarik dan sesuai dengan kriteria investasi yang telah ditetapkan.

“Kalau memang dari segi pricing-nya ini bagus, ya tentunya kita untuk masuk ke pasar modal,” ujar Rosan.

Terkait rencana masuknya Danantara ke BEI setelah proses demutualisasi, Rosan menegaskan hingga kini belum ada angka pasti mengenai porsi kepemilikan saham yang akan diambil. Menurut dia, seluruh opsi masih akan dikaji secara menyeluruh.

“Mengenai demutualisasi kita tentunya akan mempelajari terlebih dahulu berapa persen yang kita ingin masuk. Kan kita juga punya kriteria-kriteria pada saat kita masuk dan berinvestasi,” kata Rosan.

Menurut Rosan, keterlibatan sovereign wealth fund (SWF) di bursa bukanlah hal baru di tingkat global. Di sejumlah negara, porsi kepemilikan SWF di bursa bervariasi, mulai dari 15 persen hingga di atas 30 persen.

“Hampir di semua bursa lainnya di dunia ini SWF-nya itu kan memang ikut ya, range-nya bisa 15 persen, ada yang 25 persen, ada yang 30 persen, ada yang lebih dari itu,” katanya.

Meski demikian, Rosan menekankan ke depan kepemilikan saham BEI tidak hanya terbuka bagi Danantara. Ia menyebut, SWF lain juga berpotensi masuk sebagai pemegang saham, sebagaimana praktik yang berlaku di berbagai negara.

“Tapi justru yang masuk ini bukan hanya dari Danantara, tapi bisa SWF lainnya juga,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Danantara Indonesia berminat untuk menjadi pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun dengan catatan, jika proses demutualisasi BEI telah terealisasi.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan pihaknya sangat terbuka dengan kemungkinan tersebut.

“Kita terbuka, kalau ini sudah terjadi demutualisasi tentu Danantara berkeinginan untuk masuk juga,” katanya saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat, 30 Januari.

Terkait dengan skema masuknya Danantara ke bursa, Rosan belum memastikan apakah akan dilakukan melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (IPO) atau cara lainnya.

Kata Rosan, pihaknya masih akan melihat struktur yang paling tepat dan memberikan manfaat terbaik ke depan. Menurut dia, upaya demutualisasi ini dilakukan agar ada transparansi di pasar saham.

“Kita lihat, kita lihat struktur yang terbaik. Yang pentingnya dengan keberanian kita ini kita ingin menjadi lebih baik dan lebih terbuka,” tuturnya.