JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui, industri alas kaki dalam negeri masih ketergantungan bahan baku impor dari China. Alhasil, industri alas kaki dalam negeri kurang dapat bersaing.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menyampaikan, pelaku industri dituntut untuk meningkatkan daya saingnya ke depan.
"Jadi, kalau untuk industri alas kaki ini memang sumber utama materialnya ataupun bahan baku masih dikuasai China dengan rantai pasok industri sangat kuat. Nah, ketika memang komponennya masih banyak impor, pastinya dari faktor-faktor lainnya pelaku usaha kami dituntut harus lebih meningkatkan daya saingnya supaya harganya kompetitif," ujar Reni dalam Rilis IKI Januari 2026 di Jakarta, Kamis, 29 Januari.
Reni menyebut, pelaku industri alas kaki dalam negeri harus bisa menyiasati serbuan produk-produk China, baik dari segi kualitas, kuantitas hingga harga.
"Jadi, kami berusaha menyaingi produk impor yang memang lebih banyak dari China. Bisa dibayangkan ketika produk jadinya dari China, kami impor bahan baku dari China. Ini, kan, kami mau buat sepatunya, alas kakinya, bahan bakunya dari China berhadapan dengan barang jadi dari China," kata dia.
Dia khawatir, apabila pelaku usaha tidak segera menyiasatinya, ke depan industri alas kaki domestik akan kalah bersaing dengan produk-produk asal China.
"Kalau kami tidak bisa mensiasati dari R&D-nya, dari produktivitasnya, pasti kami akan kalah bersaing. Ini pr (pekerjaan rumah) kami semua," ucap dia.
Meski begitu, Reni bilang, pihaknya telah melakukan sejumlah upaya untuk mendongkrak pertumbuhan industri alas kaki. Antara lain, melakukan pemasaran atraktif, baik itu secara daring dengan menggandeng beberapa marketplace yang ada maupun juga luring.
Tak hanya itu, lanjut dia, keberadaan Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia yang baru diresmikan pada November 2025 lalu juga diharapkan bisa menjadi angin segar bagi subsektor tersebut.
"Diharapkan desainer, motif-motif ataupun bahan baku yang digunakan oleh industri kecil menengah juga semakin baik, berkualitas. Jadi, jangan ada kesannya kalau produk IKM, kan, produk yang begitu saja," terang Reni.
Terlebih, kata Reni, pangsa pasar utama produk-produk alas kaki Indonesia adalah Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.
"Dengan keberadaan inovasi, terus diikuti R&D baik, harapannya memang semakin banyak alas kaki yang dihasilkan IKM semakin kompetitif," jelas dia.
"Bagaimana kami sudah punya IKM-nya banyak, nah ini harus kami berdayakan supaya tetap dia mencintai pekerjaannya," imbuhnya.
Sebelumnya, kinerja industri alas kaki dipastikan berada pada level menurun alias kontraksi pada Januari 2026. Hal tersebut diungkap Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dalam Rilis IKI Januari 2026 pada hari ini.
BACA JUGA:
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengungkapkan, kinerja industri alas kaki berada di bawah level 50 alias tidak ekspansif pada awal tahun ini.
"Tiga subsektor yang mengalami kontraksi di bawah 50 adalah industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki (KBLI 15), subsektor industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) serta barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya (KBLI 16) dan ketiga adalah industri komputer, barang elektronik dan optik (KBLI 26)," ujar Febri dalam kesempatan yang sama.
Menurut Febri, kinerja subsektor industri berorientasi ekspor masih tertekan dikarenakan adanya ketidakpastian global hingga perang tarif antarnegara.
"Subsektor industri berorientasi ekspor masih dalam persiapan mencermati bagaimana ketidakpastian global berpengaruh terhadap demand mereka, ketidakpastian global itu antara lain adalah gejolak geopolitik dan perang tarif antarnegara," jelasnya.