Bagikan:

JAKARTA - Perum Bulog akan mengurangi penyaluran beras murah melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di daerah sentra produksi beras. Kebijakan ini diambil untuk mencegah kelebihan pasokan di wilayah produsen sekaligus menjaga keseimbangan distribusi ke daerah yang membutuhkan.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pengurangan volume penyaluran SPHP di sentra produksi dilakukan terutama saat puncak musim panen. Meski demikian, penyaluran tetap berjalan dengan volume terbatas agar pasokan tidak menekan harga beras di tingkat petani.

"Nanti di saat musim panen di saat puncak musim panen bulan Maret dan bulan April termasuk bulan Agustus itu kita penyaluran di daerah-daerah sentra produksi, penyaluran SPHP-nya ini dikurangin dikecilkan volumenya. Tapi tetep dilakukan supaya tidak tidak tumpah banyak di pasaran,” ujar Rizal dalam media briefingCapaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategi 2026di Kantor Bulog, Jakarta Selatan, Jumat, 2 Januari.

Sementara itu, untuk daerah yang bukan sentra produksi beras, penyaluran SPHP tetap dilakukan secara normal sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen.

Rizal menambahkan, pada 2026 Bulog mendapat penugasan menyalurkan beras SPHP sebanyak 1,5 juta ton yang dilakukan sepanjang tahun. Jumlah tersebut sama dengan target penyaluran SPHP pada 2025. Namun, realisasi penyaluran SPHP tahun lalu hanya mencapai 802.939 ton.

Selain pengaturan volume, Bulog juga mengubah skema distribusi beras SPHP. Saat ini, penyaluran dilakukan langsung dari Bulog ke pengecer dengan kemasan 5 kilogram (kg), tanpa melalui distributor.

Menurut Rizal, perubahan skema ini dilakukan berdasarkan evaluasi penyaluran sebelumnya. Pada pola lama, beras SPHP yang disalurkan melalui distributor kerap dioplos dengan beras lain, kemudian dijual kembali dengan harga yang tidak sesuai ketentuan.

“Sekarang tidak diserahkan langsung ke grosir-grosir tapi dari Bulog langsung ke para pengecer sampai dengan ritel-ritel yang ada di lapangan yang terdepan sehingga memotong jalur-jalur distribusi 1 dan distribusi 2,” tuturnya.