JAKARTA - Perum Bulog akan mencabut aturan pembatasan pembelian beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang sebelumnya maksimal dua karung per transaksi. Ke depan, masyarakat diperbolehkan membeli beras SPHP hingga lima karung.
“Jadi sekarang tidak dibatasi dua pak lagi, tapi boleh jadi lima pak, seperti itu,” ujar Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu, 21 Januari.
Rizal menegaskan, Bulog memiliki stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang memadai untuk memenuhi lonjakan permintaan beras SPHP di masyarakat. Menurutnya, kesiapan stok dan distribusi tidak menjadi kendala.
“Sudah siap kita, enggak ada masalah, kan memang sudah tergelar semuanya,” ujarnya.
Meski pembatasan pembelian dilonggarkan, Bulog tetap melakukan pengaturan distribusi, khususnya di wilayah sentra produksi beras. Langkah ini dilakukan untuk menjaga harga gabah petani agar tidak jatuh menjelang musim panen raya.
“Namun, khusus di daerah-daerah sentra produksi pangan, nanti volumenya dikurangi. Tapi untuk di luar daerah sentra-sentra produksi pangan normal, ya seperti biasa,” tutur Rizal.
Rizal menjelaskan, pengurangan volume bersifat sementara dan akan disesuaikan dengan siklus tanam dan panen.
BACA JUGA:
“SPHP ini nanti pada saat sentra produksi pangan panen, itu kita kecilkan, kayak kecilkan volume saja gitu. Nanti begitu musim tanam lagi kan, kita gedein lagi volumenya,” katanya.
Bulog juga menargetkan distribusi beras SPHP dapat menjangkau Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Saat ini, masih terdapat kendala terkait permodalan koperasi, namun pemerintah menargetkan dukungan regulasi dan anggaran segera turun.
“Ya mungkin dalam waktu dekat, Februari ini sudah ada kepastian, sudah ada turun dukungan anggaran, maupun undang-undangan, dan lain sebagainya,” tutur Rizal.