JAKARTA - Lebih dari 2.000 naskah Jain bersejarah akan meninggalkan Wellcome Collection di London. Namun, koleksi langka itu tidak dikirim ke India atau Pakistan, melainkan ke Dharmanath Network in Jain Studies di University of Birmingham.
The Independent dikutip Selasa, 19 Mei melaporkan, Wellcome Collection memutuskan mengembalikan naskah itu kepada komunitas Jain setelah menyimpulkan sebagian besar koleksi diperoleh “dengan harga murah dan bertentangan dengan kepentingan terbaik pemilik aslinya”.
Koleksi tersebut merupakan himpunan naskah Jain terbesar di luar Asia Selatan. Naskah-naskah itu diperoleh pada 1919 oleh agen Sir Henry Wellcome, pengusaha farmasi sekaligus kolektor.

Lebih dari separuh koleksi disebut berasal dari satu kuil Jain di Punjab, wilayah yang kini masuk Pakistan. Kuil itu sudah tidak ada. Catatan akuisisi menunjukkan agen Wellcome membayar 5 rupee untuk tiap naskah. Nilainya sekitar 0,8 pence berdasarkan kurs saat ini.
Juru bicara Wellcome Collection mengatakan kepada The Independent, naskah itu kemudian diasuransikan untuk pengiriman ke Inggris senilai 22.000 rupee atau 170 pound sterling. Arsip juga menunjukkan agen Wellcome mengetahui naskah tersebut diperoleh di bawah nilai sebenarnya, sementara penjual tidak memahami harga sesungguhnya.
Kesepakatan pengembalian ditandatangani Wellcome Trust, Institute of Jainology, dan University of Birmingham di House of Commons pada 14 Mei. Proses ini dilakukan setelah pembahasan selama beberapa tahun.
Naskah itu mencakup rentang lima abad. Isinya meliputi agama, sastra, dan kedokteran dalam bahasa Prakrit, Sanskerta, Gujarati, Rajasthani, serta aksara Hindi awal.

Salah satu naskah penting adalah salinan bergambar Kalpasutra dari abad ke-16. Teks ini berisi kisah para guru spiritual Jain, termasuk Mahavira. Ada pula naskah rusak dari 1688 yang diduga menyimpan salinan tertua Vaidyamanotsav, risalah kedokteran yang ditulis pada 1592.
Koleksi itu juga memuat naskah antikolonial yang disebut sebagai contoh awal kritik terhadap dasar etika kekuasaan Inggris di India.
Meski disebut pengembalian atau restitusi benda budaya, naskah itu tetap berada di Inggris. Koleksi akan dipindahkan ke Dharmanath Network in Jain Studies di University of Birmingham. Menurut Wellcome Collection, tempat itu dinilai paling tepat untuk merawat naskah sekaligus memberi akses bagi peneliti dan komunitas Jain.
Wellcome Collection menyebut kesepakatan ini sebagai pengembalian pertama semacam itu bagi lembaga tersebut. Pemindahan akan dilakukan bertahap hingga lima tahun, sambil menuntaskan audit koleksi.
BACA JUGA:
Dharmanath Network berdiri pada 2023 dan didukung komunitas Jain di Inggris, Amerika Serikat, dan India. Lembaga itu berencana membuka akses bagi peneliti serta komunitas yang mampu membaca, menafsirkan, dan menerjemahkan naskah tersebut.
Keputusan tidak mengirim koleksi ke India atau Pakistan terkait sejarah rumit kawasan itu. Banyak naskah berasal dari wilayah yang kini menjadi Pakistan. Setelah pemisahan India dan Pakistan, banyak komunitas Jain terusir dan kuil-kuil mereka ditinggalkan.
India kini memiliki sekitar 4,45 juta penganut Jain berdasarkan sensus 2011. Di Inggris, komunitas Jain diperkirakan berjumlah sekitar 60.000 orang.
Managing trustee Institute of Jainology, Mehool Sanghrajka kepada The Independent mengatakan sebagian naskah itu mungkin tidak selamat dari gejolak di India setelah kemerdekaan.
Daniel Martin dari Wellcome Collection mengatakan kesepakatan itu mengakui luka akibat pengambilan dan penyimpanan warisan budaya secara tidak etis.
Kasus ini muncul saat museum dan lembaga Inggris terus ditekan untuk mengembalikan artefak dari bekas koloni. Pada Maret, Ashmolean Museum mengembalikan patung perunggu abad ke-16 Santo Tamil Tirumankai Alvar ke India. British Museum juga masih menghadapi desakan Yunani untuk mengembalikan patung Parthenon.