Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara memastikan seluruh bandara di Indonesia siap menghadapi lonjakan penumpang pada libur Natal dan Tahun Baru 2026.

Sebanyak 257 bandara di seluruh Indonesia sudah diinspeksi untuk memastikan operasional berjalan aman, lancar, dan sesuai standar.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F Laisa menyampaikan inspeksi bandar udara ini dilakukan oleh inspektur Bandar Udara kantor pusat bersama dengan inspektur bandar udara Kantor Otoritas Bandar Udara (OBU) I hingga X.

“Inspektur pusat melakukan inspeksi di 12 bandara, sementara inspektur OBU memeriksa 245 bandara lainnya sesuai wilayah kerja masing-masing,” ujar Lukman dalam keterangan resmi, Kamis, 11 Desember.

Rinciannya, Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandar Udara Binaka, Bandar Udara Morowali, Bandar Udara Adi Sutjipto, Bandar Udara Lede Kalumbang, Bandar Udara Betoambari, Bandar Udara Umbu Mehang Kunda, Bandar Udara Depati Amir, Bandar Udara Silampari, Bandar Udara Kalimarau, Bandar Udara Sultan Babullah, dan Bandar Udara H.Asan Sampit.

Lukman bilang pemeriksaan difokuskan pada sisi udara termasuk runway, taxiway, apron, alat bantu visual, sistem kelistrikan, pelayanan darurat, hingga drainase, serta fasilitas sisi darat seperti terminal penumpang. Kesiapan para inspektur juga menjadi bagian penting dalam proses pengawasan ini.

“Kesiapan inspektur juga menjadi unsur penting pelaksanaan inspeksi,” ujarnya.

Kata Lukman, hasil evaluasi dari inspeksi yang dilakukan oleh Inspektur Bandar Udara nantinya akan rekap dan diserahkan kepada Direktur Bandar Udara dan Kepala Kantor OBU.

“Hasil dari inspeksi para inspektur ini  harus ditindaklanjuti oleh unit penyelenggara bandar udara terkait, sehingga pada saat pelaksanaan Nataru semua berjalan dengan lancar, aman dan selamat,” ujar Lukman.

Ditjen Hubud juga mengeluarkan sejumlah arahan untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem dan bencana alam. Arahan itu meliputi peningkatan kewaspadaan operasional terhadap kondisi cuaca ekstrem dan bencana alam.

Kemudian, menyampaikan informasi perubahan cuaca, kondisi runway, dan informasi keselamatan penerbangan kepada pilot. Lalu, melakukan pengamatan runway secara berkala, mencegah dan membersihkan potensi bahaya (FOD/condaminants).

“Selanjutnya, berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga dan meningkatkan pelayanan penerbangan. Kemudian, mengantisipasi cuaca ekstrem, bencana alam dan keadaan darurat demi menjaga keselamatan, keamanan dan pelayanan,” tuturnya.

Lalu, berkoordinasi dan berkolaborasi dengan instansi terkait apabila terjadi bencana alam  untuk penanganan cepat dan teratur.

Kemudian melaporkan segera kepada Dirjen Hubud dan jajaran apabila terjadi incident/accident/serious accident atau kejadian signifikan lainnya.

“Kami berharap pelaksanaan angkutan udara Nataru kali ini dapat memberikan kesan yang baik, perjalanan  yang nyaman, selamat dan aman,” ujar Lukman.