JAKARTA – PT Pertamina International Shipping (PIS) mengadopsi berbagai strategi berbasis identifikasi dan penilaian risiko untuk semua proses bisnis baik dari sisi operasional dan proyek investasi dalam menghadapi tantangan risiko yang semakin kompleks.
VP Risk Strategy & Governance PIS Nico Dhamora mengungkapkan bahwa PIS telah melakukan transformasi manajemen risiko dari fungsi pendukung menjadi penggerak strategis melalui penguatan tata kelola, Structural Oversight, Business Continuity, Technology & Digitalization, dan Risk Culture.
Dikatakan Nico, PIS memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan lain. Dalam penggunaan digitalisasi tidak hanya melihat dari sisi data saja.
"Pemanfaatan digitalisasi di PIS tidak hanya berfungsi untuk menampilkan data operasional, tetapi juga berperan sebagai early warning system yang memberikan sinyal dini sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan. Dengan armada yang beroperasi baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia, kemampuan untuk memantau secara akurat posisi kapal serta memahami kondisi rekan-rekan di laut menjadi sangat krusial. Melalui sistem digital yang terintegrasi, pengambilan keputusan dapat dilakukan berbasis risiko dan bukan semata-mata intuisi," jelas Nico dalam E2S Energy Update 2025, dikutip Kamis, 11 Desember.
Dia melanjutkan, PIS mengoperasikan 474 kapal tanker, 80 persenuntuk layanan domestik dan 20 persen melayani 65 rute internasional, PIS menilai penguatan manajemen risiko menjadi kebutuhan mendesak.
Menurutnya, manajemen risiko tidak hanya melibatkan upaya internal perusahaan, tetapi juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak eksternal. PIS terus berkomunikasi dengan regulator, pemangku kepentingan, pemasok, dan klien untuk memastikan bahwa setiap tahap operasional memenuhi standar yang telah ditetapkan baik nasional maupun Internasional.
"Fungsi manajemen risiko harus secara proaktif membangun koordinasi dan komunikasi dua arah dengan seluruh pemangku kepentingan. Efisiensi, baik dalam aspek operasional maupun proyek investasi, hanya dapat dicapai apabila terdapat kolaborasi yang solid dan komunikasi yang efektif. Melalui pendekatan tersebut, organisasi dapat memastikan bahwa setiap keputusan diambil dengan tepat,” ungkap Nico.
Lebih lanjut, dia menuturkan manajemen risiko berperan secara strategis untuk mengawal capaian target-target Perusahaan dengan pengelolaan risiko secara komprehensif.
"Kita harus memastikan bahwa seluruh risk event telah diidentifikasi dengan jelas sehingga tidak menimbulkan loss atau kerugian baik dari aspek safety, bisnis, dan reputasi. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa proses bisnis yang dijalankan tidak menciptakan risiko baru bagi organisasi," ujar Nico.
Pemerintah menilai perusahaan di sektor energi di Indonesia sudah semakin concern untuk mengedepankan tata kelola manajemen risiko dalam pengembangan bisnisnya.
BACA JUGA:
Sekretaris Jendral Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Jilanisaf Rizwi Hisjam mengungkapkan bahwa penerapan manajemen risiko hal serius.
"Pentingnya mitigasi yang dapat membahayakan operasi di bidang energi kemajuan di bidang Sistem Informasi sejalan dengan munculnya resiko-resiko baru di sektor energi," kata Rizwi.