Bagikan:

JAKARTA - PT Pertamina International Shipping (PIS), Subholding Integrated Marine Pertamina, mengungkapkan empat risiko dan tantangan dalam menjalankan bisnisnya.

VP Risk Strategy & Governance PIS, Nico Dhamora, menjelaskan bahwa dengan mengoperasikan 474 kapal tanker angkut, di mana 80 persen melayani domestik dan 20 persen melayani 65 rute internasional, perseroan memiliki portofolio yang sangat kompleks.

Nico memaparkan, terdapat empat tantangan risiko utama yang dihadapi PIS. Yang pertama adalah Regulatory and Safety Compliance. Risiko ini krusial karena kapal-kapal PIS beroperasi di berbagai negara dengan standar regulasi yang berbeda. Selain itu, keandalan aset (kapal) harus dijaga.

"Implikasinya apabila ada aset kita yang tidak andal, maka bisa diyakini bahwa nanti akan berakibat pada pasokan energi secara nasional," ujar Nico dalam E2S Energy Update di Jakarta, Rabu, 10 Desember.

Lebih jauh Nico menjelaskan, tantangan Geopolitical Tension, memiliki dampak langsung pada operasional. Ia mencontohkan insiden yang pernah terjadi di Teluk Hormuz.

"Saya ingat sekali ada satu kapal kita yang ada di Teluk Hormuz ketika Israel menyerang Qatar, dan pada saat itu benar-benar menjadikan bahwa konteks geopolitik itu menjadi valid," jelas dia.

Selanjutnya, tantgan yang dihadapi adalah risiko Keamanan Siber, merupakan risiko yang nyata. Nico menyebut insiden di Teluk Hormuz menyebabkan GPS di kapal PIS tidak berfungsi. Dalam situasi tersebut, PIS selain mengandalkan kemampuan navigasi manual pelaut andal, juga menerapkan kontrak multi-vendor GPS.

"Kita juga akhirnya berkontrak dengan multi-vendor sehingga nanti ketika GPS kita dimatikan, maka kita bisa switch on kepada vendor lain sehingga GPS-nya tetap bisa berjalan," jabarnya.

Terakhir, tantangan yang dihadapi adalah Energy Market Volatility. Fluktuasi harga minyak dunia memengaruhi vessel tanker charter rate, yang pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan bisnis perusahaan.

Dalam upaya mengelola risiko, PIS menerapkan kerangka Governance Center Risk Management dengan empat fokus utama, sejalan dengan kerangka Pertamina Grup dan Permen BUMN No. 2 Tahun 2023.

Nico menekankan pentingnya Structural Oversight dengan menerapkan Three Lines of Defense dan memperkuat Internal Control serta Segregation of Duties. PIS menempatkan fungsi manajemen risiko sebagai Second Line of Defense (pengawas).

"Tujuannya adalah memastikan bahwa semua First Line (pemilik bisnis proses) menjalankan tata kelola yang baik, sehingga nanti teman-teman Third Line (Internal Audit) beban mereka dalam melakukan assurance tidak berat," jelas dia

Dalam aspek Digitalisasi, PIS menjadikan data historis sebagai sumber informasi dan Early Warning System melalui sistem Shipping Early Warning Insight System (SEWIS).

"Head Office harusnya adalah Head Office yang memberikan pandangan langsung kepada teman-teman beroperasi di sana. Dan saya menjadikan digitalisasi ini sebagai quick win," tandas Nico.