JAKARTA – PT Pertamina Internasional EP (PIEP), Regional Internasional anak usaha Pertamina Hulu Energi (PHE) Subholding Upstream, melakukan pengapalan perdana atau first lifting minyak mentah sebesar 1 juta barel menuju Indonesia dari Port Arzew, Oran, Aljazair.
Pengapalan perdana ini merupakan produksi pertama di bawah perpanjangan Production Sharing Contract(PSC) Blok 405A, yang memastikan keberlanjutan operasional Pertamina di Aljazair untuk 25 tahun ke depan.
Kemitraan strategis Pertamina dengan Sonatrach ini dimulai pada periode 2002 hingga 2003 melalui kontrak tahunan, berlanjut dengan fleksibilitas transaksi spot pada 2006 hingga 2013, hingga memasuki fase ekspansi signifikan sejak 2014 melalui akuisisi hak pengelolaan Menzel Lejmat (MLN).
Menjelang pelaksanaan lifting, kedua perusahaan menandatangani Lifting Service Contract pada 22 Desember 2025 di Kantor Pusat Sonatrach. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Algeria EP (PAEP) Jon Erwin dan VP Commercialization Sonatrach Mr. Mayouf Belgacem.
Direktur Utama PIEP Syamsu Yudha bilang pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi Pertamina sebagai pemain migas internasional.
BACA JUGA:
“Kami menjalankan amanah untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui praktik operasional yang unggul dan berkelanjutan di Aljazair,” ujar Syamsu dalam keterangan resmi, Jumat, 26 Desember.
Sekadar informasi, proses pengapalan perdana ini merupakan hasil sinergi terintegrasi Subholding Pertamina, yang melibatkan Subholding Upstream PHE melalui PIEP dan PAEP sebagai produsen hidrokarbon di luar negeri.
Kemudian, Subholding Shipping PT Pertamina International Shipping (PIS) sebagai pelaksana pengapalan internasional, serta Subholding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) sebagai pembeli dan operator kilang di dalam negeri.
Sementara itu, Komisaris Utama PIEP Dharmawan H. Samsu menambahkan, keberhasilan pengapalan perdana ini merupakan hasil dari proses diplomasi dan negosiasi yang panjang.
“Pengapalan kargo pertama sebesar 1 juta barel ke Indonesia ini menegaskan nilai strategis perpanjangan Blok 405A untuk 25 tahun ke depan. Ini merupakan pencapaian besar setelah melalui proses negosiasi kontrak yang intens,” jelasnya.