JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan produksi batu bara untuk tahun 2026 akan turun dibandingkan produksi tahun 2024. Hal ini dimaksudkan untuk mengendalikan harga batu bara di pasar internasional yang terus mengalami penurunan.
“Pasti (turun). Kami lagi exercise (volumenya),” ujar Bahlil kepad awak media, Jumat, 14 November.
Ia menjelaskan, turunnya harga batu bara di pasar internasional ini disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan pasar dengan suplai batu bara dari Indonesia.
Sementara itu berdasarkan prognosa tahun 2024-2026 oleh Kementerian ESDM, RKAB batu bara diperkirakan sebesar 900 juta ton sehingga mengakibatkan permintaan dan pasokan batu bara tidak seimbang dan berimbas pada harga. Untuk itu pemerintah kembali melakukan evaluasi terhadap volume batu bara yang diproduksi oleh perusahaan penambang batu bara
"Kebutuhan batu bara dunia itu cuma 1,3 miliar ton. Kita bisa menyuplai sampai 600 juta ton, hampir 50 persen. Akhirnya sekarang harga batubara lagi turun jauh," tandas dia.
BACA JUGA:
Sementara itu Kementerian ESDM mencatat total produksi batu bara mencapai 836 juta ton. Sementara itu jumlah produksi tersebut mencapai 117 persen target yang ditetapkan pada 2024, yakni sebesar 710 juta ton.
Adapun 233 juta ton di antaranya telah disalurkan ke dalam negeri melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) dan 48 juta ton untuk stok.
Untuk mengendalikan harga, Bahlil kenudian membujka opsi menaikkan besaran DMO menjadi lebih dari 25 persen untuk industri prioritas seperti kelistrikan, pupuk dan semen.
Kendati demikian ia memastikan harga DMO tidak akan berubah atau tetap 70 dolar AS per ton.
“Kalau masih kurang (untuk kebutuhan dalam negeri), kami akan naikkan DMO,” tandas Bahlil.