JAKARTA - Konflik Iran mulai terasa sampai ke dapur industri. Amerika Serikat kini menjadi pemasok terbesar nafta ke Korea Selatan, menggeser negara-negara Timur Tengah yang sebelumnya dominan, seperti dilaporkan Kyodo News, Kamis, 30 April.
Data Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan mencatat impor nafta dari AS mencapai 24,7 persen. India menyusul dengan 23,2 persen, kemudian Aljazair 14,5 persen, Uni Emirat Arab 10,2 persen, dan Yunani 4,5 persen.
Padahal sebelum konflik AS-Iran meletus pada akhir Februari, posisi AS masih di urutan ketujuh. Saat itu, Uni Emirat Arab menjadi pemasok utama, diikuti Aljazair, Qatar, Kuwait, dan India.
“AS menjadi sumber impor terbesar karena pasokannya lebih mudah diamankan,” kata Wakil Menteri Perdagangan, Industri, dan Keamanan Sumber Daya Korea Selatan, Yang Ghi-wuk dikutip Kyodo News.
Nafta sendiri adalah bahan baku utama industri petrokimia. Dari sinilah lahir berbagai produk sehari-hari, mulai dari plastik, kemasan, hingga bahan kimia untuk industri. Artinya, perubahan pasokan nafta bisa berdampak langsung ke rantai produksi—bahkan harga barang.
BACA JUGA:
Meski terjadi pergeseran, pemerintah Korea Selatan belum melihat ini sebagai perubahan permanen. Yang menilai pasar nafta sangat sensitif terhadap harga, sehingga arah pasokan masih bisa berubah.
Seoul memperkirakan pasokan nafta akan kembali stabil mulai bulan depan. Upaya diversifikasi impor dan dukungan kebijakan mulai menunjukkan hasil.
Untuk Mei, Korea Selatan diperkirakan mampu mengamankan hingga 90 persen pasokan seperti sebelum konflik Iran. Perusahaan petrokimia juga mulai meningkatkan operasi pabrik mengikuti masuknya pasokan baru.
“Volume kontrak nafta sepanjang Maret sudah tercapai hanya dalam setengah bulan pada April,” ujar Yang.
Selain dari AS, Korea Selatan juga meningkatkan impor bahan baku petrokimia dari China untuk menjaga produksi tetap berjalan.