Bagikan:

JAKARTA - PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih mencatatkan kerugian sebesar Rp3,6 triliun pada September 2025. Angka tersebut hampir setara dengan periode sama di tahun sebelumnya.

Direktur Keuangan Waskita Karya Wiwi Suprihatno mengatakan, perseroan masih dalam tahap pemulihan dengan fokus utama pada penurunan liabilitas dan menyesuaikan kembali proporsi aset.

"Sementara itu dari sisi bottom line, rugi bersih masih tercatat sebesar Rp3,6 triliun. Hal ini hampir masih mirip dengan tahun sebelumnya yang mana memang perseroan masih dalam fase recovery," ujar Wiwi dalam Public Expose 2025, Selasa, 4 November.

Pendapatan usaha perseroan pun hanya Rp5,3 triliun atau anjlok hingga 22 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Wiwi menjelaskan, penurunan tersebut disebabkan oleh berkurangnya nilai kontrak yang dikelola akibat penurunan nilai kontrak baru (NKB) yang diakuisisi perseroan.

Pendapatan tersebut masih didominasi oleh jasa konstruksi dengan kontribusi mencapai 71,2 persen. Proyek-proyek utama yang menopang pendapatan antara lain berasal dari PT Hutama Karya, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), PT Jalan Tol Trans Jabar Tol, PT Jasa Marga Probolinggo Banyuwangi dan PT Angkasa Pura II.

Meski masih ada rugi, Waskita menunjukkan tanda perbaikan pada efisiensi. Margin laba kotor naik dari 14,7 persen pada di September 2024 menjadi 18,5 persen pada September tahun ini.

EBITDA tercatat Rp 29,3 miliar. Nilainya menurun terutama dikarenakan adanya keuntungan dari divestasi pada ruas Tol Bocimi sebesar Rp250,4 miliar pada 2024 lalu. Sedangkan pada 2025, keuntungan dari divestasi hanya ada pada kegiatan divestasi atas Waskita Sangir Energi sebesar Rp11,7 miliar.

"Dari sisi beban keuangan, berhasil dilakukan penekanan sebesar 18 persen secara year-on-year dari Rp3,5 triliun menjadi Rp2,8 triliun. Ini tentunya mencerminkan adanya perbaikan likuiditas dan manfaat dari terlaksananya proses restrukturisasi yang sampai dengan saat ini masih berjalan," terang Wiwi.

Secara neraca, total aset WSKT mencapai Rp71,9 triliun, turun 6,8 persen dibandingkan akhir 2024 lalu. Penurunan itu disebabkan oleh adanya pengalihan kepemilikan hak pengelolaan jalan tol di Palembang.

Sementara liabilitas turun 2,5 persen secara year to date (ytd) menjadi Rp67,6 triliun, menandakan langkah konsisten perusahaan dalam menekan beban utang. Di sisi lain, ekuitas Waskita kini tercatat Rp4,4 triliun, turun 44,5 persen akibat rugi berjalan.

"Secara keseluruhan, pergerakan ini menunjukkan arah konsolidasi dan penataan keuangan berkelanjutan yang mana Waskita Karya terus memperkuat struktur neraca dan menjaga fokus bisnis agar tetap solid di tengah proses transformasi," pungkasnya.