BAJAWA - PT PLN (Persero) berupaya mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko yang berkapasitas 2x10 Megawatt (MW).
Bukan tanpa sebab, saat ini total daya listrik yang tersedia di Pulau Flores hanya 104,2 Mega Watt (MW), sementara beban puncak mencapai 96-97 MW.
"Ini berarti cadangan daya listrik yang tersisa sangat minim, hanya 7-8 MW," ujar Manager Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusa Tenggara, Bobby Robson Sitorus di Bajawa, dikutip Senin, 27 Oktober.
Dia menambahkan, saat ini beban puncak kabupaten Ngada tercatat sebesar 5 MW dan masih bergantung pada pasokan listrik dari kabupaten lain, seperti Manggarai Barat dan Ende, untuk memenuhi kebutuhan listriknya sementara suplai listrik di Kabupaten Ngada sendiri hanya 0,1 MW yang bersumber dari PLTMH Ogi.
Adapun dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, Sistem Flores akan mendapatkan penambahan listrik sebesar 130 MW dari PLTP-PLTP yang ada.
"Geotermal itu 130 lebih. 130 Megaan. Jadi ditargetkan itu paling banyak di Flores itu adalah geotermal," jelas Bobby.
Lebih lanjut, Bobby menyebut, pihaknya menargetkan PLTP Mataloko akan beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada tahun 2031.
Menurut Bobby, PLN telah merampungkan sejumlah proses seperti proses pembebasan lahan dan telah menyelesaikan semua proses perizinan.
"Untuk konstruksi infrastruktur tadi sudah tercapai sekitar 89 persen. Jadi makanya diperkirakan pada akhir tahun kita sudah 100 persen, selanjutnya persiapan untuk pengeboran," ujarnya.
Bobby menyatakan, sejatinya pengembangan PLTP Mataloko merupakan kelanjutan dari proyek sebelumnya.
Dia merinci, berbagai jenis perizinan juga sudah dikantongi PLN, antara lain izin lingkungan, izin kesesuaian ruang, izin kehutanan dan sebagainya.
"Itu sudah tercapai semua pada tahun 2021-2022. Kita mulai masuk untuk pengadaan tanah 2022. 2022 sampai 2024. Baru kita melakukan infrastruktur, jalan, wellpad," jelas dia.
BACA JUGA:
Untuk membangun pembangkit panas bumi berkapasitas 2x10 MW ini, PLN telah melakukan pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan menuju lokasi wellpad sejauh 7 km.
Bobby juga menyebut pihaknya tengah mengerjakan penyelesaian 4 wellpad di PLTP di Kabupaten Ngada ini. Adapun proses pengeboran nantinya akan memakan waktu 6 hingga 7 bulan untuk 1 titik wellpad.
Sementara itu, proses pengerjaan pembangkit membutuhkan waktu sekitar 15-18 bulan.