JAKARTA - Manajemen Danone Indonesia akhirnya angkat suara menanggapi sorotan publik terkait sumber air kemasan AQUA yang ramai dibicarakan usai unggahan konten YouTube Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dalam keterangan tertulis, Danone Indonesia menegaskan bahwa air yang digunakan berasal dari sumber air pegunungan terlindungi, bukan air permukaan.
“Air AQUA berasal dari 19 sumber air pegunungan yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap sumber dipilih melalui proses seleksi ketat yang melibatkan sembilan kriteria ilmiah dan lima tahapan evaluasi, dengan penelitian minimal selama satu tahun,” tulis manajemen Danone dalam keterangan resmi, Rabu, 22 Oktober.
Danone juga memastikan sumber air tersebut diambil dari akuifer dalam dengan kedalaman antara 60 hingga 140 meter, bukan dari air tanah dangkal.
“Bukan dari air permukaan atau air tanah dangkal,” ujar manajemen.
Air dari akuifer, lanjut Danone, terlindungi secara alami oleh lapisan kedap air sehingga bebas dari kontaminasi aktivitas manusia. Beberapa titik sumber bahkan bersifat self-flowing atau mengalir alami tanpa pompa.
Danone memastikan proses seleksi dan pemantauan sumber air dilakukan oleh tim ahli lintas disiplin yang melibatkan bidang geologi, hidrogeologi, geofisika, hingga mikrobiologi.
“Akuifer ini terlindungi secara alami oleh lapisan kedap air, sehingga bebas dari kontaminasi aktivitas manusia dan tidak mengganggu pemanfaatan air masyarakat sekitar,” tulis manajemen.
Danone Indonesia juga menyebut hasil studi hidrogeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) menunjukkan bahwa sumber air AQUA tidak bersinggungan dengan air yang digunakan masyarakat sekitar.
Mengutip video diunggah di kanal YouTube @KANGDEDIMULYADICHANNEL milik Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi tampak meninjau lokasi pengambilan sumber air mineral dalam kemasan dengan merek dagang AQUA.
Dedi memulai dengan menanyakan asal sumber air yang digunakan sebagai bahan baku produksi oleh perusahaan tersebut.
“Ngambil airnya dari sungai?” tanya Dedi kepada salah satu staf perusahaan di lokasi.
BACA JUGA:
Pertanyaan itu dijawab dengan singkat oleh staf tersebut, “Airnya dari bawah tanah, Pak.”
Dedi kemudian memastikan kembali apakah benar air tersebut berasal dari air tanah yang dibor. Ia juga menanyakan lebih lanjut apakah pengambilan air tersebut berdampak pada pergeseran tanah.
“Tidak akan ngefek pada pergeseran tanah? Ini kan (mengambil) airnya dibor. Dikira oleh saya dari air permukaan. Dari air sungai atau mata air. Berarti kategorinya sumur pompa dalam?,” tanya Dedi.
“Oh ini bukan air (yang berasal) dari mata air ya?,” sambung Dedi.
“Tanah dalam Pak,” jawab salah satu staf perusahaan tersebut.