Bagikan:

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, kembali menyinggung Amerika Serikat yang keluar dari Perjanjian Paris atau Paris Agreement.

Bahlil mengatakan, saat ini kondisi global secara geopolitik dan geoekonomi memang berada dalam kondisi yang tidak menentu. Di belahan negara lain, perang dan agresi militer masih terjadi sehingga menyita perhatian dari komitmen penurunan emisi.

"Di saat bersamaan banyak inkonsistensi negara-negara dalam menjaga komitmen khususnya Paris Agreement tentang penurunan emisi dan transisi energi," ujar Bahlil, Jumat, 10 Oktober.

Bahlil menyebut, terdapat beberapa negara yang menjadi inisiator dan pembuat peta jalan menuju energi baru dan terbarukan mulai kehilangan semangat

"Tapi ada juga semangatnya sudah mulai nuntur. Karena mereka tahu betul tentang keunggulan komparatif daripada masing-masing negaranya," jelas dia.

Dia juga kembali menyindir Amerika Serikat yang salah satu negara menginisiasi untuk Paris Agreement yang memilih untuk keluar dari perjanjian Paris.

Hal ini terlihat dari pidato Presiden Donald Trump dalam Sidang Majelis Umum ke-80 PBB yang tidak lagi menaruh perhatian pada isu iklim.

"Kemarin kalau kita melihat Presiden Amerika di pidatonya di PBB, ya agak ragu juga saya terkait dengan kelanjutan daripada transisi energi," sambung dia.

Kendati demikian, Bahlil memastikan, Presiden Prabowo Subianto tetap berkomitmen pada perjanjian Paris dan memiliki komitmen penuh pada transisi energi dengan energi baru, dan terbarukan (EBT).

"Presiden Prabowo di bawah pemerintahan sekarang akan konsisten untuk melanjutkan tentang transisi energi dan energi baru terbarukan," tandas Bahlil.