JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis, 4 September diperkirakan akan bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Rabu, 3 September, Kurs rupiah spot ditutup melemah tipis 0,01 persen ke level Rp16.416 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup turun 0,04 persen ke level harga Rp16.424 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa pengadilan banding AS memutuskan bahwa sebagian besar tarif perdagangan Presiden Donald Trump ilegal, dan hanya dapat mempertahankannya hingga pertengahan Oktober.
"Trump mengecam putusan tersebut dan mengatakan akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Namun, putusan lebih lanjut yang menentang tarif Trump dapat memaksa Washington untuk menegosiasikan ulang kesepakatan perdagangan baru-baru ini, yang menandakan lebih banyak gangguan dalam perdagangan global," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Kamis, 4 September.
Ibrahim menyampaikan data tersebut kemungkinan akan menjadi faktor dalam rencana Federal Reserve untuk memangkas suku bunga dan diperkirakan peluang lebih dari 90 persen bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin akhir bulan ini.
"Meningkatnya spekulasi penurunan suku bunga juga telah mendorong pasar logam dalam beberapa pekan terakhir," tuturnya.
Di sisi lain, fokus pelaku pasar juga tertuju pada potensi perundingan perdagangan bilateral antara India dan AS, setelah Washington mengenakan tarif 50 persen kepada negara Asia Selatan tersebut atas pembelian minyak Rusia.
"Pengawasan AS mengundang sanksi Eropa terhadap kilang minyak utama India, yang dapat semakin mengganggu pasokan global. Arab Saudi dan Irak terlihat menghentikan pengiriman minyak ke kilang minyak India," imbuhnya.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menyampaikan Bank Indonesia (BI) optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen yang tertuang dalam asumsi makro pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 bisa dicapai dengan sinergi kebijakan pemerintah dan bank sentral.
BACA JUGA:
BI sendiri memprakirakan ekonomi Indonesia pada 2026 tumbuh dalam kisaran 4,7 persen sampai dengan 5,5 persen. Berdasarkan perhitungan bank sentral, ditambah dengan tren laju penurunan suku bunga acuan (BI-Rate), kecenderungan pertumbuhan ekonomi tahun depan akan mencapai 5,3 persen.
Meski begitu, bank sentral optimistis pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,4 persen pada 2026 karena didukung dengan kebijakan fiskal serta mempertimbangkan berbagai kebijakan atau program yang dijalankan pemerintah untuk mendorong sektor riil.
Oleh karena itu, dengan dukungan ekspor dan juga peningkatan sektor-sektor di dalam negeri, baik untuk perdagangan, transportasi, maupun jasa, juga industri makanan-minuman maupun juga sektor-sektor lain, maka kegiatan ekonomi semakin menggeliat dan bisa menopang pertumbuhan ekonomi.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 4 September 2025 dalam rentang harga Rp16.380 - Rp16.420 per dolar AS.