Bagikan:

JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai, aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi belakangan ini dikarenakan kekecewaan dari kalangan menengah bawah.

"Kami sangat memahami aksi demonstrasi yang berbuntut kekacauan dan penjarahan saat ini merupakan akumulasi kekecewaan, kemarahan dan frustrasi kelompok masyarakat, khususnya kalangan menengah bawah," ujar Faisal dalam diskusi publik bertajuk "Indonesia di Persimpangan: Ketimpangan, Reformasi Fiskal dan Masa Depan Ekonomi" secara daring, Senin, 1 September.

Menurut Lembaga Think Tank itu, ada akar permasalahan mendasar yang berhubungan dengan penghidupan kesejahteraan dan keadilan yang selama ini belum diatasi dengan baik oleh pemerintah.

"Dan ini menjadi api dalam sekam yang akan mudah menyulut emosi masyarakat jika kemudian ada atau ditunggangi oleh tindakan-tindakan provokatif," katanya.

Faisal bilang, saat ini ekonomi RI tengah menghadapi sejumlah kendala. 

Pertama, ketimpangan ekonomi di Indonesia masih sangat lebar.

"Meskipun jumlah orang di bawah garis kemiskinan cenderung menurun dan menurut data terakhir yang dirilis BPS pada Maret 2025 mencapai 24 juta orang, tapi jumlah orang yang berada di sekitar garis kemiskinan, kalau kami ambil threshold di bawah pengeluaran per kapita per bulan di bawah Rp1 juta ini jumlahnya mencapai tidak kurang dari 100 juta orang," ucap Faisal.

Bahkan, kata dia, angka tersebut sudah mencapai lebih dari sepertiga jumlah penduduk Indonesia.

"Dan ini belum mempertimbangkan kelas menengah yang daya belinya pun pada saat ini juga mengalami penurunan," terang dia.

Kedua, meski berdasarkan data BPS tingkat pengangguran terbuka di Indonesia sudah menurun, ujar Faisal, tapi sebagian besar yang bekerja tercatat sebagai pekerja informal yang persentasenya meningkat mendekati 60 persen.

"Sejalan dengan itu, jumlah yang bekerja paruh waktu dan setengah menganggur juga meningkat jauh lebih besar peningkatannya dibandingkan dengan orang bekerja full time," tambah Faisal.

Hal itu diperparah dengan jumlah PHK yang terus meningkat. 

"Ini data terakhir yang kami lihat dari Kementerian Ketenagakerjaan, untuk periode Januari sampai Juli 2025 jumlah PHK sudah mencapai lebih dari 43.500 orang atau meningkat 150 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu," jelas dia.

Adapun dari sisi pendapatan, lanjut Faisal, upah riil buruh juga tidak meningkat berarti, bahkan cenderung melemah.

"Di Februari 2025, kami melihat bagaimana pertumbuhan upah riil buruh ini hanya tumbuh 1,9 persen, tipis sekali. Ini pertumbuhan secara year on year. Nah, kalau kami bandingkan dengan Agustus tahun lalu, ini bahkan mengalami penurunan kontraksi sebesar 4,8 persen," tuturnya.

Kendala ketiga atau terakhir adalah Core menyoroti sisi tingkat tabungan masyarakat di Indonesia. Menurut Faisal, tren menabung masyarakat kelas menengah juga terus menurun.

"Tabungan masyarakat di perbankan yang 99 persen bernilai di bawah Rp100 juta, rata-rata saldonya secara persisten dari sebelum pandemi sampai sekarang hanya tinggal rata-rata saldonya Rp1 juta. Ini di bawah Rp100 juta yang proporsinya 99 persen terhadap total," jelasnya.

Akan tetapi, lanjut dia, tabungan masyarakat di atas Rp2 miliar mengalami peningkatan. "Nah sebaliknya tabungan yang nilainya diatas Rp2 miliar, ini proporsinya paling hanya sekian persen dari total pemilik tabungan, justru rata-rata saldonya mengalami peningkatan. Jadi, ada pelebaran ketimpangan di sini," ungkap dia.

Dia menilai, hal itu juga diperparah dengan kecenderungan masyarakat kelas bawah untuk meminjam demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya konsumtif. 

"Nah, ini di antaranya terlihat dari peningkatan pinjaman peer to peer khususnya untuk kebutuhan konsumsi," ucap dia.

Faisal meminta agar pemerintah bisa mengambil upaya-upaya konkret untuk menyelesaikan sejumlah kendala tersebut.

"Core ingin menyampaikan atau meminta agar para pejabat publik dan elit politik untuk peka terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat pada saat sekarang dan melakukan langkah-langkah konkret," pungkasnya.