Bagikan:

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis, 3 Juli diperkirakan akan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Rabu, 2 Juli, Kurs rupiah spot ditutup turun 0,29 persen ke level Rp16.247 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 0,27 persen ke level harga Rp16.236 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan di tengah meningkatnya taruhan bahwa Fed akan memangkas suku bunga pada bulan September.

"Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bahwa ia melihat skenario seperti, namun, Ketua Fed Jerome Powell sebagian besar mengulangi sikap hati-hati bank sentral pada hari Selasa, dengan menyatakan bahwa ketidakpastian atas dampak inflasi dari tarif Trump akan membuat bank sentral tidak memangkas suku bunga dalam waktu dekat," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Kamis, 3 Juli.

Ibrahim menambahkan bahwa ketidakpastian atas implikasi fiskal dari RUU pemotongan pajak dan belanja yang didukung oleh Trump, yang disetujui dalam pemungutan suara Senat dan RUU tersebut sekarang akan dibawa kembali ke DPR untuk pemungutan suara terakhir.

"Analisis terbaru menunjukkan RUU tersebut dapat menambah utang pemerintah hingga 3,3 triliun dolar AS selama dekade berikutnya," tuturnya.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menyampaikan posisi utang pemerintah pada akhir anggaran 2024 mencapai Rp10.269 triliun, kendati mencerminkan besarnya kewajiban negara, namun neraca pemerintah per 31 Desember 2024 mencerminkan posisi keuangan yang solid, dengan total aset Rp13.692,4 triliun, kewajiban Rp10.269,0 triliun, dan ekuitas Rp3.423,4 triliun.

Sedangkan, posisi ekuitas negara sebesar Rp3.423,4 triliun merupakan gambaran kekayaan bersih serta kekuatan fiskal negara dalam menghadapi ketidakpastian dan risiko global yang masih tinggi.

Adapun, Saldo Anggaran Lebih (SAL) per akhir 2024 tercatat sebesar Rp457,5 triliun. Jumlah ini turun tipis dari posisi awal tahun yang sebesar Rp459,5 triliun.

Ibrahim menyampaikan penurunan tersebut terjadi seiring pemanfaatan SAL untuk pembiayaan APBN dan level SAL masih memadai, dimana pos anggaran SAL, berfungsi sebagai penyangga fiskal dalam menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian ke depan.

Sedangkan itu, ia menyampaikan arus kas dari aktivitas investasi mencatatkan nilai negatif dari aktivitas investasi mencerminkan komitmen pemerintah untuk terus melakukan investasi produktif guna mendorong akselerasi pembangunan nasional.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 3 Juli 2025 dalam rentang harga Rp16.230 - Rp16.300 per dolar AS.