JAKARTA - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Nixon LP Napitupulu buka suara apakah akan melakukan pembelian saham kembali atau buyback saham di tengah harga saham emiten perbankan yang anjlok saat ini.
Nixon bilang pihaknya tidak bisa memutuskan hal ini sekarang. Sebab, saat ini perseroan tengah fokus melakukan aksi korporasi yakni melakukan akuisisi PT Bank Victoria Syariah (BVIS).
Sekadar informasi, harga saham emiten perbankan pekan ini kompak anjlok. Di tengah kondisi tersebut, dua emiten bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sudah memastikan akan melakukan buyback saham.
“Nah jika ditanya apakah kita (BBTN) ada buyback? Sementara kita lihat dulu deh. Karena ada aksi korporasi ya, akuisisi syariah kan. Nunggu itu kelar dulu, tidak bisa barengan,” ujarnya saat ditemui di Kawasan GBK, Jakarta, Minggu, 9 Februari.
Terkait dengan anjloknya saham emiten perbankan, Nixon mengatakan di awal tahun 2025, kondisi likuiditas atau kemampuan perbankan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya, memang sedang mengetat. Hal tersebut yang mendorong investor melepas saham emiten bank di Indonesia.
BACA JUGA:
Lebih lanjut, Nixon juga mengatakan terkoreksinya saham emiten perbankan tidak hanya terjadi pada perusahaan pelat merah alias Himpunan Bank Negara (Himbara), termasuk BTN, tetapi juga perbankan swasta lainnya.
“Memang tahun 2025, termasuk analis aku tanya, kenapa pada lepas saham bank-bank di Indonesia bukan cuma Himbara, hampir seluruh bank sahamnya dikoreksi, karena mereka melihat ketatnya likuiditas,” tuturnya.
Selain itu, Nixon juga bilang, para analis juga memprediksi bahwa pertumbuhan kinerja perbankan di tahun ini tidak semoncer tahun sebelumnya.
“Jadi mereka, para analis, enggak yakin pertumbuhannya akan seperti masa-masa sebelumnya. Nah ini yang jadi PR banget adalah memang menjaga pertumbuhan dengan likuiditas yang ketat,” katanya.
Menurut Nixon, likuiditas bank yang ketat ini akan menyebabkan penurunan keuntungan atau profit perusahaan. Dengan begitu, banyak bank besar akhirnya juga memilih untuk mengoreksi proyeksi pertumbuhannya, termasuk BTN yang memproyeksikan hanya 7 persen.
“Saya juga kaget, bank-bank besar seperti BCA aja mengoreksi pertumbuhannya gitu ya. Kita juga jadi 7 persenan, mungkin mirip-mirip lah yang lain,” ucapnya.