Kabar Gembira dari Wakil Erick Thohir: Meski Sekarang Masih Hancur Lebur, Garuda Indonesia Diproyeksi Pulih pada 2023 saat Pandemi Mereda
Pesawat Garuda Indonesia. (Foto: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memproyeksikan kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan pulih pada 2023. Namun demikian, dengan catatan tak ada gelombang ketiga pandemi COVID-19.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo memaparkan harapannya tidak ada gelombang ketiga dan pengetatan pergerakan masyarakat, maka pendapatan maskapai pelat merah tersebut akan mulai pulih bertahap ke 120 juta dolar AS per bulan pada 2022 dan 200 juta dolar AS pada 2023.

"Apabila pandemi berangsur membaik dan tourism mulai bangkit, 2023 kita akan mencapai revenue awal," ujarnya saat rapat bersama dengan komisi VI DPR/RI, dikutip, Kamis 11 November.

Sebelumnya, Tiko, sapaan akrabnya telah memaparkan sejumlah penyebab yang membuat kondisi Garuda berada pada titik saat ini, tidak lain karena persoalan korupsi masa lalu. Kemudian pandemi COVID-19 membuat maskapai berjenis layanan penuh ini mencapai titik nadir dengan pendapatan hanya 20 juta dolar AS per bulan.

Padahal Garuda Indonesia membutuhkan biaya operasional sebesar 130 juta-150 juta dolar AS per bulan. Alhasil, utang Garuda semakin menumpuk dengan komponen terbesarnya untuk pembayaran kewajiban sewa pesawat kepada 32 lessor. Per November, utang Garuda dilaporkan telah membengkak menjadi 9,8 miliar dolar AS atau nyaris Rp140 triliun.

Maskapai nasional ini pun tengah menempuh berbagai opsi restrukturisasi untuk mengurangi jumlah utang. Tiko menargetkan proses restrukturisasi akan berhasil pada kuartal II 2022. Jika opsi yang ditempuh membuahkan hasil, Garuda bisa mengurangi ongkos operasional menjadi 80 juta dolar AS per bulan.

"Sementara revenue Garuda di Desember adalah 70 juta dolar AS. Jadi harapannya di Mei dan Juni 2022, Garuda bisa mencapai break event point dan mulai tumbuh positif," tutur Tiko.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan perusahaan memilih untuk menyelesaikan persoalan negosiasi dengan lessor dalam lingkup pengadilan yang membutuhkan waktu 270 hari untuk menyelesaikan restrukturisasi.

Penyelesaian in court, sebutnya, menjadi yang terbaik karena semua pihak akan duduk bersama memikirkan kesepakatan. Irfan mengatakan perusahaan telah mengajukan proposal restrukturisasi kepada lessor. Dalam proposalnya, Garuda menawarkan tiga penyelesaian tunggakan.

Pertama, Garuda meminta adanya haircut atau pengurangan beban utang. Kedua, selama satu-dua tahun masa recovery atau saat pergerakan belum normal, Garuda akan membayar sewa pesawat dengan skema bayar-pakai.

Artinya, Garuda hanya akan membayar sewa jika pesawat tersebut dipakai berdasarkan jam operasionalnya. Ketiga apabila pandemi selesai dalam dua tahun, pihaknya akan kembali menyewa berdasarkan harga pasar.