Jika Sosok Genius yang Dimaksud Kishore Mahbubani adalah Jokowi Wali Kota Solo, Okelah
Presiden Jokowi saat blusukan (Sumber: Wikiwand)

Bagikan:

JAKARTA - Profesor dan peneliti National University of Singapore, Kishore Mahbubani menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai pemimpin genius paling efektif di dunia. Pernyataan Mahbubani memanen kontroversi. Tagar #JokowiJenius_TapiBoong digaungkan di Twitter.

Mahbubani menyebut Jokowi contoh terbaik pemimpin dunia abad ke-21, yang bahkan lebih baik dari Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Di mata Mahbubani Biden gagal menambal luka perpecahan politik akibat Pilpres AS 2020.

Beda hal dengan Jokowi. Sosok mantan Gubernur DKI Jakarta (2012-2014) justru mampu merangkul lawan politiknya. “Sebagai permulaan, Jokowi telah menjembatani kesenjangan politik Indonesia," tutur Mahbubani.

"Hampir satu tahun setelah Joe Biden memenangkan pemilihan presiden AS 2020, 78 persen dari Partai Republik masih tidak percaya dia terpilih secara sah. Biden menjabat sebagai senator AS selama 36 tahun. Tetapi dia tidak dapat menyembuhkan perpecahan partisan Amerika.”

Jokowi dan Joe Biden (Instagram/@jokowi)

“Sebaliknya, calon presiden dan calon wakil presiden yang dikalahkan Jokowi dalam pemilihannya kembali 2019 –Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno– kini menjabat di kabinetnya (masing-masing sebagai menteri pertahanan dan menteri pariwisata),” tambah Mahbubani, dikutip dari artikel Project Syndicate berjudul The Genius of Jokowi (2021).

Mahbubani juga menjabarkan sederet prestasi Jokowi lainnya, seperti produk hukum Omnibuslaw, lapangan kerja baru, hingga pembangunan infrastruktur. Lainnya, Mahbubani menyoroti gerak cepat Jokowi mengamankan 175 juta dosis vaksin untuk 270 juta penduduk Indonesia.

“Inilah mengapa keberhasilan Jokowi patut diapresiasi lebih luas. Dunia dapat belajar banyak dari model pemerintahannya yang baik,” terang Mahbubani.

Apa kata data?

Banyak publik dalam negeri yang justru berpendapat sebaliknya. Kemunculan tagar #JokowiJenius_TapiBoong di Twitter jadi bentuk sindiran. Data mendukung skeptisme publik terhadap predikat genius Jokowi.

Tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Jokowi selama COVID-19 cenderung menurun dalam survei-survei nasional. Survei Indikator Politik yang diselenggarakan pada 17-21 September bulan lalu, misalnya.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi mengungkap tingkat kepuasan pada kinerja Jokowi memang masih di atas 50 persen, yakni 58,1 persen. Tapi trennya ternyata menurun dibanding survei sebelum pandemi COVID-19.

"Kalau lihat tren, ada penurunan terhadap kepuasan Presiden Jokowi, saat survei dilakukan dalam kondisi pemberlakuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Ada dampak PPKM terhadap penurunan kepuasan terhadap kinerja Presiden," kata Burhanuddin.

Presiden Jokowi dalam agenda vaksinasi nasional di Kalimantan Timur (Sumber: Antara)

Rilis survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 18 Juli lalu juga menunjukkan tren penurunan terhadap kepuasan pada kinerja Jokowi. Survei itu menyoroti sikap publik terhadap vaksin dan program vaksinasi pemerintah.

Dalam survei LSI, 59,6 persen masyarakat mengaku sangat dan cukup puas dengan kinerja Jokowi dalam menangani wabah COVID-19. Sementara itu 37,1 persen responden tak puas.

"Namun, kepuasan tersebut mengalami penurunan dalam enam bulan terakhir," kata Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan dikutip Kumparan.

Jokowi di Solo

Jokowi dalam blusukan di sebuah pasar (Sumber: Wikiwand)

Di Solo, Jokowi melakukan banyak terobosan. Ia tak cuma membenahi infrastruktur tapi juga memerkuat identitas Kota Solo lewat branding “The Spirit of Java”. Seperti jabatan presidennya, Jokowi juga menempuh dua periode di Solo.

Yang menarik, Jokowi unggul telak atas pesaingnya pada periode kedua pemerintahan dengan perolehan suara 90,08 persen. “Sejak saat itu nama Jokowi mulai jadi perhatian media. sasaran empuk untuk mencari berita di sekitar Jawa Tengah, bahkan nasional."

"Sehingga ketika Jokowi dan F.X. Hadi kembali mencalonkan diri dalam Pilkada Kota Solo periode kedua, 2010-2015, mereka berhasil mengantongi suara yang sangat fantastis yaitu 90,09 persen."

"Baru kali ini dalam sejarah pemilu di Indonesia, ada kandidat pasangan calon pemimpin yang mendapat angka hampir 100 persen seperti pasangan Jokowi-Hadi," Dedi Mahardi, dalam buku Indonesia Butuh Jokowi (2018).

Kegeniusan Jokowi dalam memimpin membuat Solo mendapatkan banyak penghargaan. Jokowi pernah membawa Solo mendapat gelar sebagai kota dengan tata ruang terbaik kedua di Indonesia.

Ilustrasi foto, Jokowi bersama Sinuhun Pakubuwana XIII (Sumber: Wikiwand)

Berkat Jokowi pula Solo mendapatkan piala dan piagam Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden Republik Indonesia pada 2009. Jokowi pun dikenal sebagai figur yang lihai memosisikan diri saat berada di hadapan mahasiswa dan rakyat.

Mantan Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEM) Fisip Universitas Slamet Riyadi (Unisri) periode 2011-2013, Lalu Jatiswara Mahardika mengamini hal itu. Semasa Jatiswara menjabat sebagai ketua DEM, Jokowi begitu kooperatif dengan mahasiswa.

Jokowi sering mengajak mahasiswa berdialog terkait koreksi pemerintahannya. Karenanya, Jokowi dapat berkolaborasi dengan baik dengan mahasiswa. Pun kebijakan Jokowi semasa menjabat sering kali pro terhadap rakyat kecil.

“Dalam hal ini, saya tidak memposisikan diri (tiap hari) menjadi saksi mata langsung melihat Jokowi bersentuhan dengan masyarakat. Tapi melihat dari penataan Kota Solo yang sedemikian apik, rapi untuk pedagang-pedagang."

"Artinya tak cuma pedagang-pedagang besar, tapi pedagang kecil juga diberikan wadah untuk mereka berjualan bahkan ditata lebih bagus. Itu yang saya rasakan ketika beliau menjabat,” tutup Jatiswara ketika dihubungi VOI, 11 Oktober.

*Baca Informasi lain soal POLITIK atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

BERNAS Lainnya