JAKARTA – Banyak orang menganggap cacar air atauvaricellasebagai penyakit ringan pada anak. Apalagi diketahui virusVaricella zosteryang menjadi penyebab cacar air, dapat menetap secara laten di sistem syaraf dan berpotensi menyebabkan herpes zoster atau cacar api.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melihat adanya peningkatan kasus cacar air dan herpes zoster, terutama pada anak-anak sekolah. Salah satu daerah yang mendapati penyakit cacar, meskipun jumlah kasusnya relatif kecil dan tidak masuk dalam kategori wabah, adalah Bali.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar dr. A.A. Ayu Agung Candrawati mengatakan, kemunculan kasus cacar merupakan kondisi yang masih bisa ditemukan setiap tahunnya. Namun, jumlah tersebut belum mengkhawatirkan.
Hal ini juga dikonfirmasi Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik di IDAI Ratni Indrawanti, yang mengatakan belum ada angka secara spesifik terkait peningkatan kasus cacar air maupun herpes zoster belakangan ini. tapi, sudah banyak daerah yang melaporkan kasus tersebut.

“Beberapa akhir-akhir ini, ada beberapa peningkatan kasus, terutama pada anak-anak sekolah. Ada beberapa laporan, agak merata, saya kira di Indonesia," kata Ratni dalam seminar yang digelar IDAI secara daring, Selasa (13/1/2026).
Tingkat Penularan Sangat Tinggi
Cacar air termasuk penyakit yang dikenal masyarakat. Pada 2024, sejumlah sekolah melaporkan banyaknya kasus sakit cacar air pada siswa. Salah satunya adalah SMPN 8 Tangerang Selatan, yang mendapati sebanyak 53 siswa terkena cacar air. Alhasil, pihak sekolah memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama dua pekan untuk menghentikan penyebaran cacar air.
Cacar air (chickenpox) pernah menjadi penyakit yang umum terjadi pada anak-anak. Penyebab cacar air atau yang juga dikenal sebagai varicella adalah virusVaricella zoster. Penyakit ini ditandai dengan munculnya ruam lepuh atau bentol-bentol berisi cairan yang terasa sangat gatal di seluruh tubuh.
VirusVaricella zosterini mudah menular melalui percikan ludah, atau kontak langsung dengan cairan yang berasal dari ruam maupun bentol penderita cacar air. Secara klinis, varicella diawali demam dan diikuti ruam khas yang muncul bertahap. Lesi kulit berkembang dari makula, papula, vesikel berisi cairan jernih, pustul, hingga akhirnya mengering menjadi krusta.
Masalahnya,varicellasudah menular satu sampai dua hari sebelum ruam muncul.
BACA JUGA:
Anak juga tetap bisa menyebarkan virus hingga seluruh lesi kulit mengering dan berubah menjadi keropeng. Dengan masa inkubasi sekitar dua minggu, pengendalian wabah cacar air menjadi sulit tanpa pencegahan yang baik.
Ritni Indrawati menyebut tingkat penularan cacar air sangat tinggi. Angka reproduksi dasar (reproduction number/R0) penyakit ini berada di kisaran 8 sampai 12.
Artinya, satu anak yang terinfeksi cacar air dapat menularkan penyakit ini ke delapan sampai 12 anak lain, terutama di lingkungan dengan kontak erat seperti sekolah, rumah, atau ruang perawatan.
Herpes Zoster
Bagi sebagian besar orang, anggapan bahwa penyakit cacar hanya dapat dialami sekali seumur hidup masih berlaku. Padahal, secara medis tidak demikian.
Banyak orang ternyata tidak tahu bahwa virusVaricella zosteryang menjadi penyebab cacar air tidak benar-benar hilang dari tubuh penderitanya. Dengan kata lain, meski sudah sembuh,Varicella zostermasih bersembunyi dan tetap hidup di dalam tubuh seseorang. Virus ini dapat aktif kembali menjadi herpes zoster ketika imunitas sedang menurun.
Secara sederhana Ratni menjelaskan, jika seseorang pertama kali terpapar virusVaricella zoster, maka ia akan mengalami cacar air. Dan ketika sudah disembuhkan, virus tersebut tidak mati atau sirna dari tubuh manusia, tetapi akan dorman atau laten, terutama dalam sel neuronal.
Dengan begitu, suatu saat virus tersebut bisa mengalami reaktivasi dan bermanifestasi sebagai penyakit herpes zoster atau yang lebih dikenal dengan cacar api.
“Varicelladan herpes zoster itu adalah dua manifestasi klinis dari virusVaricella zoster dalam satu spektrum penyakit sepanjang hidup,” ujar Ratni.

Herpes zoster memang lebih sering ditemukan pada orang dewasa dan lansi, tapi Ratni mengatakan, kondisi ini juga dapat terjadi pada anak. Sementara itu, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, insiden herpes zoster bervariasi berdasarkan usia. Setidaknya, ditemukan 2-9 kasus cacar api per 1.000 penduduk setiap tahun.
Ia menambahkan, keberadaan herpes zoster pada anak juga menjadi pengingat bahwa infeksivaricellabukan tanpa konsekuensi jangka panjang. Virus yang sama dapat kembali menimbulkan penyakit bertahun-tahun setelah infeksi pertama.
“Karena itu, pencegahan varicella sejak dini menjadi sangat penting, bukan hanya untuk mencegah cacar air, tetapi juga menurunkan risiko herpes zoster di kemudian hari,” pungkas Ratni.