JAKARTA – Sebuah survei menyebut orang Indonesia adalah yang paling berbahagia di dunia. Hasil survei ini dicatut Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Perayaan Natal Nasional beberapa waktu lalu.
Dalam pidatonya pada 5 Januari 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Prabowo mengaku terharu karena di tengah ketidakpastian global, Indonesia justru diklaim sebagai bangsa paling berbahagia.
“Dari hampir 200 negara. Negara yang rakyatnya setelah ditanya, menjawab bahwa rakyat tersebut mengalami, bahagia. Negara yang paling nomor satu di dunia sekarang rakyatnya dia mengatakan, dia bahagia adalah bangsa Indonesia," kata Prabowo.
"Ini mengharukan bagi saya, karena saya paham bahwa sebagian besar rakyat kita, sesungguhnya masih mengalami kehidupan yang sangat, sangat sederhana, yang berada dalam keadaan, bisa harus kita akui, keadaan yang belum sesungguhnya sejahtera," kata dia mengimbuhkan.

Tingkat Kesejahteraan Tinggi
Survei yang dimaksud Prabowo adalah yang dilakukan olehGlobal Flourishing Study(GFS). Singkatnya, GFS adalah studi riset longitudinal berskala global yang bertujuan memahami apa yang membuat individu dan masyarakat dapat berkembang atauflourishdalam skala jangka panjang.
Studi ini dilakukan melalui kolaborasi antaraHuman Flourishing Program(Harvard University) danInstitute for Studies of Religion(Baylor University), dengan dukungan teknis dan metodologis dari Gallup serta Center for Open Science.
Dalam studi tersebut, ada 200.000 lebih partisipan dari 22 negara yang mewakili keragaman geografis, budaya, dan agama, termasuk Indonesia. Negara-negara lain yang terlibat antara lain Argentina, Australia, Brasil, Tiongkok, Mesir, Jerman, India, Inggris, Amerika Serikat, serta sejumlah negara lain di berbagai benua.
Dari hasil survei tersebut, Indonesia menempati posisi puncak dengan total nilai Overall Flourishing Index sebear 8,47 (dari skala 0-10) yang berarti tingkatflourishingatau kesejahteraan hidup bangsa Indonesia berada pada ketegori yang sangat tinggi.

Ada enam dimensi yang diukur dalam studi ini, yaitu kebahagaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebijakan, kedekatan hubungan sosial, serta stabilitas keuangan dan material.
Survei yang melibatkan 207.920 responden berusia 18 tahun ke atas ini dirilis pada April 2025.
Dalam pidato tersebut, Prabowo Subianto mengaku terheran-heran, sekaligus mengharukan, mendapati Indonesia sebagai bangsa yang paling bahagia. Menurut klaim dia, pemerintahannya di Kabinet Merah Putih sangat bekerja keras.
Budaya Gotong Royong Kental
Peneliti psikologi sosial dari Universitas Indonesia (UI) Wawan Kurniawan menuturkan, hasil penelitian GFS setidaknya menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia merasa sejahtera tidak semata karena kondisi ekonominya. Melainkan karena dimensi non-material seperti makna hidup, spiritualitas, dan dukungan sosial masih sangat kuat.
Budaya kekeluargaan, gotong royong, serta keberagaman masih melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga, meski menghadapi tantangan ekonomi yang berat, orang Indonesia tetap merasa hidupnya bermakna dan layak dijalani.
“Dalam konteks ini, rasa cukup, bersyukur, dan relasi sosial yang erat tampaknya lebih dominan dalam membentuk persepsi kesejahteraan dibanding indikator ekonomi objektif seperti pendapatan atau stabilitas kerja,” kata Wawan.
Nilai-nilai solidaritas dan sosial, yang termanifestasi lewat gotong royong, menurut Rakhmat Hidayat, sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sudah diakui komunitas internasional. Nilai-nilai ini terus dirawat, dipertahankan, dan dijaga dari generasi ke generasi sehingga budaya saling membantu dan salingtepo selirotetap ada.
BACA JUGA:
Di antara contoh yang menunjukkan kentalnya budaya saling membantu masyarakat Indonesia terjadi saat aksi demonstrasi akhir Agustus 2025, ketika tagar #wargajagawarga menggema di media sosial. Selain itu, ada pula solidaritas warga bantu warga saat banjir bandang dan longsor terjadi di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh akhir tahun lalu.
Kendati demikian, Indonesia berada di posisi bawah dari 147 negara dalam laporanWorld Happiness Report2025. Indonesia tepatnya berada di urutan ke-83 dalam survei terbaru.
Survei ini dilakukan Gallup World Poll dan Oxford, dan ada beberapa aspek yang masuk dalam penilaian, seperti PDB per kapita, harapan hidup sehat, dukungan sosial, serta kebebasan untuk membuat pilihan hidup. Dalam survei tersebut, negara-negara Eropa seperti Finlandia, Denmark, hingga Islandia menempati urutan atas dengan tingkat kebahagiaan tertinggi dalam hidup.
Wawan Kurniawan menjelaskan adanya perbedaan hasil laporan di kedua survei ini. Ini terjadi karena masing-masing studi menggunakan pendekatan berbeda.

PadaWorld Happiness Report, lebih menekankan aspek struktural seperti sistem sosial dan kebebasan. Sementara studi kesejahteraan Harvard menekankan aspek psikologis dan eksistensial.
Makanya, negara maju unggul dalam pemenuhan kebutuhan material dan sistem publik. Tapi warganya banyak yang mengalami kesepian atau krisis makna hidup. Sebaliknya, masyarakat Indonesia justru mampu menemukan kepuasan hidup dari relasi sosial, kebermaknaan, dan spiritualitas meski hidup dalam keterbatasan ekonomi.