JAKARTA - Bank Indonesia (BI) terus mengandalkan instrumen Sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik kembali aliran modal asing di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian global.
Adapun langkah ini diambil setelah rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp17.700 per dolar AS pada 19 Mei 2026.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa bank sentral telah menaikkan tingkat imbal hasil (yield) SRBI agar instrumen keuangan domestik tetap kompetitif di mata investor asing.
Sebagai informasi per 13 Mei 2026, suku bunga SRBI tenor 6 bulan meningkat menjadi 6,21 persen, tenor 9 bulan menjadi 6,31 persen, dan tenor 12 bulan naik menjadi 6,45 persen.
Menurut Perry, penguatan instrumen moneter tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas rupiah di tengah derasnya arus keluar modal dari negara berkembang akibat konflik di Timur Tengah serta penguatan dolar AS.
“Berbagai respons kebijakan yang ditempuh dapat mendorong kembali masuknya investasi portofolio asing,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu, 20 Mei.
BI mencatat aliran modal asing pada kuartal II 2026 mulai menunjukkan tren positif yaitu hingga 18 Mei 2026, arus modal masuk bersih (net inflows) tercatat mencapai 5,5 miliar dolar AS, terutama mengalir ke instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN).
Selain meningkatkan imbal hasil SRBI, BI juga memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (offshore) maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Perry menegaskan bahwa penguatan struktur suku bunga instrumen moneter dilakukan untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing sekaligus menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
Tidak hanya itu, ia menambahkan BI turut memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian batas pembelian tunai valas tanpa underlying, peningkatan threshold transaksi DNDF/Forward, serta penyesuaian threshold transaksi swap yang mulai berlaku sejak April 2026.
Bank sentral juga memperluas instrumen operasi moneter valas melalui transaksi spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah, serta memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) dalam aktivitas perdagangan dan investasi.
Di samping itu, kebijakan stabilisasi rupiah diperkuat melalui pembelian SBN di pasar sekunder, didukung optimalisasi kebijakan pasar valas dan perluasan instrumen moneter berbasis valuta asing.
Adapun, langkah-langkah tersebut ditempuh untuk menjaga kestabilan rupiah di tengah tingginya permintaan dolar AS serta gejolak pasar keuangan global.
"Kebijakan ini didukung oleh penguatan strategi struktur suku bunga instrumen operasi moneter dengan kenaikan suku bunga SRBI seperti di atas sebagai bagian dari stabilisasi nilai tukar rupiah," jelasnya.
Hingga 18 Mei 2026, posisi SRBI tercatat mencapai Rp921,88 triliun dan dari total tersebut, kepemilikan investor nonresiden meningkat menjadi Rp221,59 triliun atau sekitar 24,04 persen dari total outstanding SRBI.
Ia menyampaikan di tengah tekanan global, BI tetap optimistis SRBI akan terus diminati investor karena menawarkan imbal hasil yang menarik serta didukung prospek ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid.
BACA JUGA:
Perry menyampaikan BI juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter pro-pasar guna meningkatkan aliran masuk modal asing sehingga dapat mendukung penguatan rupiah.
"Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," tuturnya.