Bagikan:

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump merayakan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS. Muncul dugaan Negeri Paman Sam ingin menguasai minyak Venezuela.

Selama berbulan-bulan, Trump terus menekan Maduro supaya melepaskan kekuasaan dan meninggalkan Venezuela. AS dan sejumlah negara menganggap Maduro memanipulasi pemilihan umum untuk tetap berkuasa sejak 2013.

Selain itu, Trump dan pejabatnya juga mengatakan bahwa pengerahan militer terhadap Venezuela bertujuan untuk melawan aliran narkotika. Pihak AS menuding Maduro melindungi kartel perdagangan narkoba. Tapi menurut banyak bukti, termasuk kata-kata Trump sendiri setelah penangkapan Maduro, justru menunjukkan bahwa kepentingan Washington yang sebenarnya adalah cadangan minyak Venezuela yang terbukti sangat besar.

Penangkapan Presiden Venezuela belum berdampak pada perubahan besar dalam struktur kekuasaan negara Amerika Selatan tersebut.

Demonstran di Caracas, Venezuela, Sabtu (3/1/2026) membawa gambar Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang diculik militer AS atas perintah Presiden AS Donald Trump. (Str/Xinhua)

Wakil Presiden Delcy Rordriguez diperintahkan memegang kekuasaan. Lingkaran orang-orang paling berkuasa saat ini masih dipegang oleh orang-orang dekat Maduro, termasuk Ketua DPR Jorge Rodriguez serta Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello dan Menteri Pertahanan Vladimir Padrino.

Sedangkan tokoh oposisi Edmundo Gonzalez yang disinyalir sah memenangi pemilu 2019 atau penerima Nobel Perdamaian, Maria Corino Machado, kesempatannya kecil untuk memimpin Venezuela.

MengutipAl Jazeera, cadangan minyak Venezuela merupakan yang terbesar di dunia, diperkirakan sekitar 303 miliar barel.

Ambisi Trump

Tekanan AS terhadap pemerintahan Maduro selama berbulan-bulan terakhir mencapai puncaknya pada Sabtu (3/1/2026) ketika mereka melancarkan serangan ke ibu kota Venezuela, Caracas. Selain Caracas, serangan juga terjadi di Negara Bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira.

Presiden AS awalnya menggambarkan serangan akhir pekan lalu sebagai operasi anti-narkoba, sedangkan para pejabat menyebutnya sebagai penangkapan “dua buronan yang didakwa” atas tuduhan perdagangan narkoba.

Presiden Maduro didakwa di Pengadilan Distrik Selatan New York atas dugaan konspirasi terorisme narkoba dan konspirasi impor kokain, di antara tuduhan lainnya.

Tangkapan layar laman platform Truth Social milik Presiden AS Donald Trump menyiarkan foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang ditangkap dan berada dalam tahanan AS di atas kapal USS Iwo Jima. (ANTARA/Truth Social @realDonaldTrump)

Tetapi beberapa jam setelah serangan serangan di Caracas yang menelan korban puluhan warga sipil, pejabat, dan personel mliter, Trump malah secara terbuka membahas tentang minyak dan kendali AS atas Venezuela. Dalam konferensi pers di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump mengklaim AS akan “menjalankan negara itu” untuk saat ini, membangun kembali infrastruktur minyak, dan “mengambil sejumlah besar kekayaan dari dalam tanah untuk dijual kepada pelanggan global, termasuk saingan China dan Rusia.

Maduro sendiri secara konsisten membantah keterlibatannya dalam perdagangan narkoba dan menuduh Washington menggunakan tuduhan ini sebagai dalih untuk mendapatkan minyak dan sumber daya lainnya, bahkan ketika Trump menyebutfentanylyang diseludupkan dari Venezuela sebagai “senjata pembunuh massal” dan melancarkan serangan udara terhadap kapal-kapal yang dituduh mengangkut zat-zat narkotika.

Pemerintah Venezuela langsung menyatakan keadaan darurat nasional. Venezuela menuding tujuan serangan AS adalah untuk mengambil alih minyak dan mineral di negara tersebut.

Minyak Vital untuk Pulihkan Venezuela

MengutipThe Globe and Mail, Venezuela yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia telah “mencuri” aset AS hampir dua dekade lalu setelah perusahaan minyak AS mengembangkan ladang minyak di negara tersebut. Pasca-serangan AS ke Venezuela, mereka kembali mengambil alih dan menghidupkan kembali industri tersebut.

“Jika Anda ingat, mereka mengambil semua hak energi kita, mereka mengambil semua minyak kita belum lama ini. Dan kita menginginkannya kembali,” kata Trump pada Desember tahun lalu.

Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, yaitu sebesar 303 miliar barel. Tapi jumlah minyak yang diproduksi Venezuela sekarang ini sangat kecil.

Produksi minyak Venezuela menurun tajam sejak awal 2000-an, karena mantan Presiden Hugo Chavez dan kemudian pemerintahan Maduro memperketat kendali atas perusahaan minyak milik negara,Petroleos de Venezuela(PDVSA), yang membuat banyak staf berpengalaman angkat kaki. Beberapa perusahaan minyak Barat, termasuk AS Chevron, masih aktif di Venezuela, tapi operasi mereka menyusut signifikan karena AS memperluas sanksi terhadap negara tersebut.

Sebuah kapal tanker minyak tetap berlabuh di dermaga di sekitar kilang El Palito pada 18 Desember 2025 di Puerto Cabello, Venezuela. (Al Jazeera)

Salah satu sanksi tertuju pada ekspor minyak, guna membatasi akses ekonomi Nicolas Maduro. Sanksi AS yang menargetkan minyak Venezuela telah menjadi elemen inti kebijakan AS terhadap Venezuela sejak 2017, utamanya sejak di bawah arahan gabungan era Trump.

Ekspor minyal Venezuela rata-rata hanya sekitar 950.000 barel per hari (bpd) pada November 2025, dan embargo minyak AS membuat angkanya menurun menjadi sekitar 500.000 bpd bulan lalu. Sebagai perbandingan, eksportir minyak lainnya, seperti Arab Saudi dan Rusia, mengekspor rata-rata jutaan barel per hatri.

Francisco Rodriguez, mantan kepala penasihat ekonomi Majelis Nasional Venezuela, mengatakan cadangan emas dan minyak adalah salah satu harapan utama negara tersebut untuk pemulihan ekonomi.

“Jika AS bergerak untuk mencabut sanksi dan menghilangkan hambatan bagi investor untuk kembali, produksi minyak dapat mencapai 2,5 juta barel per hari dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun,” ucap Rodriguez kepada AlJazeera.

“Saya pikir apa yang dikatakan pemerintahan Trump adalah bahwa kami memprioritaskan pemulihan sektor minyak dan membuat ekonomi berada pada basis yang terkendali sehingga kami dapat memikirkan transisi politik yang lebih tertib,” ucap mantan pejabat itu.

“Tapi jika Anda mencoba untuk langsung menyerahkan kekuasaan kepada oposisi sekarang tanpa terlebih dulu menetapkan dasar untuk pemulihan ekonomi, itu sebenarnya sangat berbahaya dan menyebabkan kekacauan,” tandasnya.