Bagikan:

JAKARTA – Secara medis, sejumlah pengamat menyebut memiliki anak membuat perempuan menjadi lebih tua. Beberapa faktor seperti proses kehamilan, melahirkan, menyusui, dan membesarkan anak sangat menyita energi kaum perempuan.

Anggapan bahwa perempuan yang memiliki anak lebih cepat tua sebenarnya sudah sering terdengar sejak dulu. Dan, klaim tersebut kembali menyeruak setelah pernyataan influencer atau pemengaruh, Gita Savitri.

Enggak punya anak adalah anti penuaan diri yang natural. Kamu bisa tidur delapan jam per harinya (dan) tidak merasakan stres karena mendengarkan bayi berteriak. Ketika kamu mulai punya kerutan, kamu punya uang untuk botox," ujar Gita melalui akun Instagram pribadinya @gitasav.

Pernyataan Gita, warga negara Indonesia yang menetap di Jerman, memantik kontroversi. Sejumlah teori memang menyebut bahwa memiliki lebih banyak keturunan menyebabkan umur lebih pendek, termasuk pada manusia. Namun, meski penelitian telah dilakukan selama ratusan tahun, tidak ada bukti yang tegas untuk membenarkan hal ini.

Perubahan Fisik dan Hormonal

Perempuan dipastikan akan mengalami perubahan fisik selama masa kehamilan dan persalinan. Tah hanya itu, perempuan juga mengalami perubahan hormonal dan fisiologis yang signifikan. Para peneliti terus berupaya memahami bagaimana kehamilan dan persalinan memengaruhi proses penuaan.

Para peneliti melakukan pengamataan terhadap sejumlah tanda biologis penuaan, seperti telomer atau bagian ujung kromosom yang memendek seiring bertambahnya usia, epigenetik atau studi terkait perubahan gen akibat perilaku dan lingkungan seseorang, serta microchmerism atau beberapa sel genetik yang menetap dalam organisme.

Sejauh ini, hasil penelitian sangat beragam. Penelitian berjudul Parity Associated with Telomere Length among US Reproductive Age Women yang dipublikasikan oleh Oxford University Press, menyebut kehamilan dan persalinan terbukti mempercepat penuaan perempuan pada tingkat fundamental.

Telomer ibu hamil, menurut penelitian itu, tampak sekitar empat hingga empat tahun lebih tua dibandingkan perempuan yang tidak punya anak.

Kehamilan dan persalinan memengaruhi proses penuaan. (Unsplash)

Telomer adalah struktur seperti benang di ujung kromosom yang mengandung materi genetik. Telomer seperti ujung tali sepatu yang keras dan berfungsi untuk melindungi kromosom. Ketika telomer terlalu pendek, sel mati dan berhenti bereplikasi.

Telomer yang lebih pendek dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan kondisi kesehatan lainnya. Telomer juga diketahui memendek pada semua manusia seiring bertambahnya usia. Selain itu, kehamilan dan persalinan juga menjadi faktor yang dapat memendekkan telomer.

Akan tetapi, telomer tidak hanya memendek karena faktor usia dan persalinan saja. Gaya hidup seperti merokok, indeks massa tubuh yang tinggi, dan stres berat juga dapat mempercepat proses pemendekan telomer. Sedangkan tidur yang berkualitas, olahraga teratur, dan pola makan sehat dapat membuat telomer tetap panjang.

Hamil dan Menyesui Butuh Energi Besar

Studi lainnya, yang berjudul The Number of Times a Person Gives Birth May Affect How Quickly They Age dari The Pennsylvania State University, Amerika Serikat, menyebut beberapa kali melahirkan dapat memengaruhi proses penuaan fisik tubuh.

Dari penelitan yang sama, kehamilan dan kelahiran juga berkontribusi pada perubahan dan disregulasi beberapa sistem fisiologis yang berbeda. Hal Ini dapat memengaruhi penuaan setelah seseorang memasuki menopause.

Kehamilan dan menyusui memerlukan energi tubuh dalam jumlah besar. Nah, kondisi ini dapat memengaruhi banyak sistem tubuh, antara lain fungsi kekebalan, metabolisme, dan tekanan darah.

Orang yang pernah melahirkan juga lebih mungkin meninggal karena diabetes, penyakit ginjal, dan hipertensi, di antara kondisi lainnya, dibandingkan mereka yang tidak melahirkan.

Akan tetapi, hasil berbeda justru dipublikasikan studi bertajuk Number of Children and Telomere Length in Women: A Prospective, Longitudinal Evaluation. Studi ini menunjukkan bahwa kehamilan dapat memperlambat proses penuaan.

"Perbedaan hasil ini pasti akan ditemukan pada tahap awal penelitian. Studi tunggal apa pun bisa salah bahkan ketika para ilmuwan melakukan segalanya dengan benar," lanjutnya," kata antropolog biologi di University of Washington, Dan Eisenberg.

Eisenberg mengatakan, cara kerja penelitian sains adalah peneliti mengobservasi pertanyaan serupa di seluruh dunia, kemudian menggabungkan beberapa hasil observasi dan studi tersebut untuk melihat tren dan menyimpulkan kebenarannya.

Dukungan Sosial

Proses penuaan perempuan rupanya juga dipengaruhi dukungan sosial, yang bisa menjadi faktor utama panjang telomere, menurut ahli epidemiologi di Universitas Simon Fraser, Pablo Nepomnaschy.

Dalam studinya pada 2016, Nepomnaschy melakukan pengamatan terhadap 75 perempuan dari dua komunitas pedesaan tetangga dan mengukur panjang telomer pada dua titik selama 13 tahun. Hasilnya, perempuan di Guatemala yang memiliki anak justru punya telomer yang lebih panjang dibandingkan yang tidak memiliki anak.

"Masyarakat suku Maya di Guatemala percaya bahwa anak-anak adalah anugerah Tuhan, anak adalah berkah," kata Nepomnaschy.

"Maka dari itu, perempuan diharapkan untuk memiliki banyak anak. Mungkin ada banyak tekanan bila tidak memiliki anak di masyarakat tersebut," imbuhnya.

Dukungan sosial dapat membantu menurunkan tingkat stres pada ibu dan berdampak pada peningkatan telomer. (Unsplash)

Menurut Nepomnaschy, para perempuan di Guatemala saling membantu dalam membesarkan anak satu sama lain. Anak perempuan tertua dalam keluarga biasanya membantu merawat yang lebih muda. Support system atau struktur pendukung semacam ini bukan sesuatu yang dimiliki banyak perempuan Amerika.

"Ini murni hipotesa," ujar Nepomnaschy.

"Namun, dukungan masyarakat bisa menurunkan tingkat stres pada ibu dan berdampak pada peningkatan panjang telomer. Itu juga bisa membantu menjelaskan kenapa ada perbedaan antara temuannya dan penelitian lain," lanjutnya

Melihat banyaknya hasil berbeda dari sejumlah penelitian, Eisenberg mengatakan penuaan diri yang terjadi setelah kehamilan dan persalinan bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.