JAKARTA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut meminta pemerintah menetapkan banjir dan longsor di Sumatera sebagai bencana nasional, karena musibah tersebut berdampak luar biasa terhadap layanan kesehatan anak-anak.
Data Badan Nasional penanggulangan Bencana hingga Rabu (3/12/2025) sore menyebutkan, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh mencapai 770 orang, dan 463 orang dinyatakan hilang. Bencana ekologis ini juga menyebabkan sekitar 2.600 orang terluka dan lebih dari 570.700 orang mengungsi.
Sejak banjir menghantam sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November lalu, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang rawan terkena infeksi beragam penyakit, seperti diare dan infeksi kulit. Fakta ini sekaligus menepis anggapan bahwa situasi mengerikan hanya tampak di media sosial.
"Kami yakin ini bukan hanya heboh di medsos, tapi memang di alam nyata juga heboh. Dan mudah-mudahan Bapak Menteri bisa juga memasukkannya sebagai bencana nasional," ucap Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso dalam konferensi pers tanggap darurat bencana Sumatera secara daring.
Waspada Infeksi Penyakit
Air bah di beberapa wilayah memang sudah mulai surut, namun Piprim mengingatkan, kondisi pascabanjir sangat tidak ideal untuk kesehatan, terutama bagi anak-anak. Menurut catatan IDAI, penyakit yang paling banyak dialami anak-anak di pengungsian antara lain infeksi saluran napas atas (ISPA), diare, hingga pneumonia.
Hal ini sejalan dengan studi David L Paterson, Hugh Wright, dan Patrick N A Harris dalam jurnal bertajuk Health Risks of Flood Disasters, yang menunjukkan bahwa infeksi kulit, diare, dan infeksi saluran pernapasan biasanya muncul pada 10 hari pertama banjir.
Penyakit ini, kata Piprim, disebabkan oleh kontak antara anak-anak dengan air banjir yang terkontaminasi oleh kuman berbahaya. Sejumlah penyakit ini juga telah menyerang sekelompok anak di beberapa wilayah banjir.
BACA JUGA:
Wakil Ketua IDAI Sumatera Utara Eka Airlangga melaporkan, hingga 30 November tercatat 92 kasus ISPA, 23 kasus diare, 42 infeksi jamur kulit (tiner), serta empat kasus dermatitis bakteri pada anak. Sedangkan di Medan ditemukan 43 kasus ISPA, enam kasus diare, dan empat kasus tinea pada anak.
"Secara umum penyakit ISPA serta penyakit berbasis sanitasi seperti diare, kemudian luka pada kulit, mendominasi kasus di lokasi pengungsian di Sumatera Utara. Hingga saat ini kami telah melakukan penanganan, termasuk pengelolaan penyediaan air bersih di lokasi pengungsian," ujar dr. Eka.
Sedangkankan di Padang, tercatat 80 kasus ISPA pada anak, empat kasus diare, enam kasus penyakit kulit, serta empat kasus morbili (campak).
Kejar Imunisasi
Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, dr. Kurniawan Taufiq Kadafi menuturkan, selain infeksi penyakit, masalah lain yang berpotensi menyerang anak-anak korban banjir adalah kesehatan mental, tumbuh kembang, dan potensi paparan kekerasan saat mereka berada di pengungsian.
"Anak-anak merupakan satuan yang sifatnya komperhensif, termasuk di dalamnya aspek tumbuh dan kembang. Belum lagi aspek pendidikan anak yang terganggu, kehilangan registrasi identitas di rumah mereka yang terdampak bencana," kata dr. Kadafi.
"Dan dalam posisi lama di kamp pengungsian, mungkin paparan kekerasan orang tua ke anak merupakan hal yang harus jadi perhatian," ia mengimbuhkan.
Dokter Kadafi juga menyoroti pemberian ASI dan susu formulai pada anak-anak korban bencana. Dalam proses menyusui, pemerintah mesti memberikan kepastian, terutama soal tempat yang nyaman dan terjamin privasinya. Ia mendorong agar ibu menyusui tetap memberikan ASI kepada anak-anak mereka. Pasalnya, memberikan ASI akan lebih praktis dan steril dibandingkan susu formula.
"Memberikan formula seringkali pada keadaan dengan air yang tidak bersih itu meningkatkan risiko terjadi diare, kekurangan gizi pada bayi dan kematian bayi," ucap dr. Kadafi.
Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, IDAI juga mendesak pemerintah daerah untuk membentuk posko imunisasi darurat di wilayah terdampak bencana. Ini dilakukan sebagai untuk mencegah lonjakan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi, terutama campak.
Apalagi, tingkat capaian imunisasi lengkap (IDL) di Sumatera Barat pada Januari 2025 sebesar 0,9 persen, jauh dari target nasional yaitu 8,3 persen. Di Aceh pun tak jauh beda. Pada 2023, baru 20,8 persen anak-anak yang telah menerima imunisasi dasar lengkap, jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 95,3 persen.
Untuk itu, tim IDAI akan melakukan imunisasi saat menemukan anak-anak korban banjir yang belum lengkap mendapatkan imunisasi.
"Kalau kita menemukan anak yang belum lengkap imunisasi dan kita siapkan pos untuk melengkapi, karena kasus yang lain sampai hari ini juga ada ya, campak komplikasi ke pneumonia," tutup Ketua IDAI Sumatera Barat dr. Asrawati.