Bagikan:

JAKARTA – Annus horribilis adalah sebuah frasa Latin yang menjadi terkenal setelah diucapkan oleh mendiang Ratu Elizabeth II pada 1992. Arti frasa itu kurang lebih: tahun bencana. Tahun itu Kerajaan Inggris sedang diguncang skandal-skandal luar biasa yang oleh Ratu dipandang sebagai aib dahsyat bagi kerajaan.

Tahun itu Pangeran Andrew berpisah dengan istrinya, Sarah Ferguson. Lantas kakak Andrew, Putri Anne juga bercerai dengan suaminya, Kapten Mark Phillips. Masih ditambah lagi dengan penerbitan biografi Lady Diana, yang menguliti masalah-masalah sensitif dalam kehidupan rumah tangganya dengan mantan suaminya, Raja Charles III, yang saat itu masih bergelar Pangeran.

Terakhir tentu saja kebakaran hebat di Kastil Windsor pada November 1992. Bencana itu menimbulkan kerusakan parah pada puri sebagai kediaman resmi keluarga Kerajaan Inggris.

“Tahun 1992 bukanlah tahun yang akan saya kenang sebagai sebuah masa-masa penuh kebahagiaan. Mengutip istilah salah satu penasihat saya, tahun itu lebih tepat disebut sebagai annus horribilis,” ujar Ratu Elizabeth II dalam pidato peringatan 40 tahun dia bertahta, 24 November 1992.

Kebakaran Kastil Windsor pada November 1992. (Royal Collection Trust)

Apa yang dialami Ratu Elizabeth II ternyata juga menimpa penguasa Kerajaan Inggris saat ini, Raja Charles III. Diawali kasus pernikahan putra bungsunya, Pangeran Harry dengan artis opera sabun asal Amerika, Meghan Markle yang berstatus janda cerai, kini mencuat skandal dari adik kandung Sang Raja, Pangeran Andrew.

Pada 17 Oktober lalu, gelar-gelar kehormatan Andrew sebagai bangsawan Inggris dilucuti oleh Charles III. Andrew tak lagi berhak memakai gelar Pangeran, Duke of York, Earl of Inverness, Baron of Killyleagh, serta banyak gelar kehormatan lainnya. Dia juga harus melepaskan keanggotaan di Ordo Garter, ordo ksatria tertua di Britania Raya.

“Dengan persetujuan Yang Mulia, kami merasa saya harus melangkah lebih jauh. Oleh karena itu, saya tidak akan lagi menggunakan gelar atau kehormatan yang telah dianugerahkan kepada saya,” bunyi pernyataan Istana Buckingham menjelaskan posisi Andrew.

Kasus Pelecehan Seksual

Semua berawal dari hubungan Andrew dengan miliarder asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai pedofil, Jeffrey Epstein. Andrew yang memang dikenal bandel beberapa kali terlibat dalam pesta seks gila bersama Epstein, dengan perempuan di bawah umur.

Kasus perceraian Andrew dengan Ferguson sebenarnya tidak terlalu membuat geger. Namun ketika skandal seks dengan anak di bawah umur muncul, gegerlah seluruh dunia. Aib Andrew terbongkar, setelah seorang perempuan bernama Virginia Guiffre mengaku diperkosa Sang Pangeran saat berada di London pada 2001.

Guiffre yang saat itu berusia 17 tahun merupakan korban perdagangan seks gelap yang dilakukan Epstein. Saat ini baik Giuffre maupun Epstein sudah meninggal dunia, dengan penyebab yang sama: bunuh diri. Pada 21 Oktober lalu buku Nobody’s Girl yang merupakan kisah Guiffre semasa hidup terbit, dan di dalamnya komplet menyinggung soal perilaku Andrew dan geng penggila seksnya.

“Bertahun-tahun setelah itu, saya sering kembali memikirkannya. Dia memang sangat ramah, namun menunjukkan sikap seolah-olah berhubungan seks dengan saya merupakan hak asasi baginya,” ujar Guiffre tentang Andrew dalam memoarnya, yang diterbitkan oleh penerbit asal AS, Alfred A. Knopf Inc.

Pangeran Andrew bersama Virginia Guiffre dan mucikari, Ghislaine Maxwell (kanan) di London pada 2021. (Dok. Virginia Guiffre)

Keputusan Charles III menyingkirkan Andrew dari keluarga kerajaan lebih didasarkan pada empati terhadap Guiffre dan korban-korban lain dari perdagangan seks yang dilakukan Epstein.

“Yang Mulia hari ini telah memulai proses formal pencabutan gelar-gelar kehormatan Pangeran Andrew. Pangeran Andrew sekarang akan dikenal sebagai Andrew Mountbatten Windsor. Yang Mulia ingin menegaskan bahwa pikiran dan simpati terdalam beliau telah, dan akan tetap bersama para korban dan penyintas dari segala bentuk pelecehan,” tulis pernyataan resmi dari Istana Buckingham pada 17 Oktober lalu.

Andrew tak hanya kehilangan banyak gelar kebangsawanan dan kehormatan, dia juga harus keluar dari tempat tinggal resmi Kerajaan Inggris yang ditempatinya di kawasan Taman Windsor. Andrew pindah ke rumah pribadi yang sebenarnya masih milik kerajaan di Sandringham, namun tidak berada di kawasan istana.

Bersih-bersih Sebelum Suksesi

Tindakan yang dilakukan Charles III terhadap adiknya ditengarai adalah upaya bersih-bersih atas permintaan sang putra sulung, Pangeran William. Pewaris tahta Kerajaan Inggris itu dikabarkan sangat marah atas kasus yang menimpa pamannya.

Selain bakal menjadi Raja Inggris setelah Charles III, William juga tengah menghadapi banyak masalah. Pertama, istrinya Kate Middleton atau Putri Catherine tengah berjuang untuk benar-benar sembuh dari kanker payudara. Demikian juga ayahnya, Charles III yang juga masih berjuang sebagai penyintas kanker. Belum lagi sang adik, Pangeran Harry yang sering bertingkah di luar adat kerajaan.

William ingin agar dirinya tidak diwarisi beban moral yang sangat berat saat bertahta kelak, jika Charles III tak segera menyingkirkan Andrew.

“Raja Charles bukan seorang pendendam. Dia hanya berusaha bersikap adil terhadap adik kandungnya, yang sebenarnya banyak tersandung kasus hukum namun tak pernah mendapatkan hukuman apapun,” tulis Phil Dampier, wartawan Woman’s Day yang special meliput isu-isu di istana Kerajaan Inggris.

Phil menuliskan bahwa jika Charles III tidak segera menuntaskan masalah-masalah dalam kerajaan yang selama ini disimpan, dikhawatirkan suatu saat problem yang dipendam akan meledak. Dan itu akan berisiko menghancurkan Monarki Inggris.

Saat inipun Charles III sudah banyak mendapat serangan dari kelompok “republikan”, yaitu golongan masyarakat yang ingin agar sistem monarki di Inggris dihapuskan. Kelompok republikan adalah garda terdepan masyarakat antimonarki di Inggris.

Berita-berita aktivitas Charles III dikalahkan berita kasus Andrew. Bahkan ketika Sang Raja meletakkan karangan bunga di tugu yang dibuat khusus untuk menghormati personel angkatan bersenjata dari golongan LGBTQ yang gugur di medan perang, sama sekali tak digubris.

Ketika mengunjungi Katedral Lichfield di Staffordshire pada 27 Oktober 2025, Raja Charles III dilecehkan oleh para pendukung golongan republikan.

"Sudah berapa lama Anda tahu tentang Andrew dan Epstein? Apakah Anda sudah meminta polisi untuk menutupi kasus Andrew?” begitu teriakan-teriakan yang dilontarkan ke Charles III oleh para golongan republikan di Staffordshire.

Desakan Putri Catherine

Pangeran William sebagai pewaris tahta Kerajaan Inggris punya peran besar untuk mempertahankan monarki. Sebab itu dia mati-matian untuk mengungkapkan kasus sang paman, Andrew.

Media di Inggris mengungkapkan hubungan mereka sangat renggang. Dalam prosesi pemakaman keluarga kerajaan, Katharine Duchess of Kent pada 16 September lalu, William dipergoki sengaja menghindar dari sapaan Andrew yang berusaha mengajaknya ngobrol.

"Kate tentu saja marah kepada Andrew dan Harry karena dia dan William sudah menanggung seluruh beban kerajaan di pundak mereka. Masalah mereka sudah cukup berat. Ditambah anggota keluarga yang memperburuk keadaan, beban itu menjadi sepuluh kali lipat. Tetapi itulah yang terjadi,” ujar sumber di Kerajaan Inggris yang tidak disebutkan namanya.

Pewaris tahta Kerajaan Inggris, Pengeran William bersama Putri Catherine dan ketiga anak mereka. (Reuters)

Sumber itu juga menyebutkan Putri Catherine lah yang berperan besar mendorong Pangeran William agar mendesak ayahnya, Raja Charles III untuk “bersih-bersih” istana sebelum kelak resmi naik tahta menggantikan sang ayah.

Bagi Kerajaan Inggris, ini sebuah tindakan yang dapat menghindarkan mereka dari keruntuhan, sekaligus mengalahkan tekanan politik dari kaum republikan.

Namun bagi Andrew yang merupakan veteran perang Falklands atau Malvinas di tahun 1982, keterusirannya dari kalangan ningrat Inggris ibarat tragedi Yunani di zaman modern. Sebuah genre drama abad ke-5 SM yang populer di Yunani, tentang kejatuhan seorang tokoh terhormat akibat ketidakmampuannya mengendalikan nafsu.