JAKARTA – Tren “Uang Rp10 ribu di tangan istri yang tepat” belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Ada yang menyebut ini sebagai lelucon, tapi bagi sebagian lagi ini adalah sebuah renungan sosial di tengah ekonomi sulit.
Dalam beberapa pekan terakhir, konten “tren uang Rp10 ribu di tangan istri yang tepat” viral di jagat media sosial. Banyak ibu rumah tangga yang membagikan belanjaan dengan nilai tak sampai Rp10 ribu untuk makan sehari.
Awalnya, tren ini hanya dianggap sebagai hiburan ringan, namun lama-lama menjadi bahan perbandingan serius di banyak rumah tangga. Bahkan, tidak sedikit yang menilai tren ini mencerminkan ekspektasi terhadap peran istri dalam mengelola keuangan.
Tentu banyak yang menentang tren tersebut, karena di era sekarang ini, uang Rp10 ribu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan layak. Tapi, tidak sedikit juga yang mengatakan tren tersebut menguji kreativitas istri, karena “kunci rumah tangga harmonis adalah istri yang mampu mengatur uang berapa pun untuk memenuhi kebutuhan”.
Konten yang terlanjur viral ini tentu memantik polemik. Perencana keuangan Prita Ghozi menuturkan, tren uang Rp10 ribu di tangan istri yang tepat tidak bisa diberlakukan kepada semua orang. Dalam konteks ini, kata Priza, harus disesuaikan dengan domisili, jumlah anggota keluarga, hingga penghasilan sebuah keluarga.
Melegitimasi Kemalasan Laki-laki
Bagi sebagian kalangan, konten uang Rp10 ribu di tangan istri yang tepat ini dapat disebut sebagai bentuk financial abuse atau kekerasan finansial. Karena, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) batas kemiskinan nasional pada Maret 2025 adalah Rp609.000 per kapita per bulan atausetara sekitar Rp20.305 per hari.
Menurut Prita Gozi, secara definisi yang didapat dari WHO, kekerasan finansial adalah terjadinya pengendalian terhadap sumber daya ekonomi keluarga. Kondisi ini menyebabkan ada salah satu anggota atau korban yang kehilangan kemandirian finansial sehingga terpaksa bergantung kepada pelaku kekerasan finansial.
Ia menambahkan, beberapa ciri-ciri financial abuse adalah ketika adanya salah satu pihak yang menguasai seluruh penghasilan pasangan dan tidak ada transparansi terhadap penggunaannya.
Ciri-ciri selanjutnya adalah melarang pasangan untuk mendapat penghasilan atau bekerja sehingga korban akan sangat bergantung finansialnya terhadap pelaku, adanya pembatasan akses terhadap keuangan.
“Misalnya pin kartu ATM yang tidak boleh diketahui pasangan dan dipegang hanya oleh satu orang,” tutur Prita.
Contoh lainnya yang termasuk ke dalam kekerasan finansial adalah adalah menyembunyikan informasi keuangan seperti tidak ada kejujuran terkait jumlah penghasilan, hutang atau adanya bantuan dari pihak luar. Kemudian membebani korban dengan tanggung jawab finansial yang tidak adil.
“Dan konteks tren Rp10 ribu per hari termasuk ke dalam poin terakhir karena tidak ada kejelasan penggunaan keuangan. Apakah uang tersebut digunakan untuk makan 3 kali sehari, di kota mana yang terjadi demikian atau porsi makan itu untuk berapa kepala dalam keluarga,” lanjutnya.
Bentuk kekerasan finansial ternyata banyak terjadi dalam rumah tangga. Berdasarkan data BPS, sebanyak 24,5 persen perempuan yang pernah atau sedang menjalani pernikahan mengalami kekerasan finansial dari pasangan.
Dalam kondisi seperti ini, perempuan sering menjadi pihak yang dipaksa kreatif untuk menutupi kekurangan finansial rumah tangga. Banyak laki-laki yang menggunakan narasi “istri yang tepat bisa mengatur uang berapa pun” hanya demi melegitimasi kemalasan dan ketidaktanggungjawaban finansial.
Padahal, ini termasuk bentuk kekerasan finansial. Namun sayangnya, budaya di Indonesia masih cukup sering meromantisasi penderitaan perempuan. Istri yang bisa hemat dan “bisa diajak susah” mendapat banyak pujian karena ini dinilai sebagai bentuk kesetiaan, alih-alih sebagai pengabaian dari suami sebagai kepala rumah tangga.
Memisahkan Dunia Nyata dan Dunia Media Sosial
Psikolog klinis dari Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Putri Langka mengingatkan pentingnya memisahkan dunia nyata dengan dunia media sosial.
Putri menegaskan, tidak semua tren cocok dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Dari sisi psikologi, tren uang Rp10 ribu di tangan istri yang tepat bukan soal nominal, melainkan menyangkut perasaan keadilan dan penghargaan dalam sebuah hubungan.
“Ketika pasangan dibandingkan dengan figur lain di media sosial, apalagi oleh orang terdekat, muncul perasaan malu, defensif, dan kehilangan rasa aman,” katanya.
Putri menambahkan, fenomena ini dianggap sebagai toxic comparison atau kebiasaan membandingkan diri dengan citra ideal di layar yang justru menurunkan kepercayaan dalam hubungan. Menurutnya, dampak perdebatan di dunia maya bisa lebih luas dari yang terlihat.
BACA JUGA:
“Bagi sebagian orang, video itu bisa sekadar hiburan. Tapi bagi yang sensitif secara ekonomi, bisa menimbulkan tekanan emosional. Dalam konteks tertentu, ini bahkan bisa dikategorikan sebagai financial abuse—tekanan psikologis akibat ketimpangan kendali finansial dalam rumah tangga,” Putri menerangkan.
Tak hanya itu, perdebatan mengenai nominal uang sering berimbas pada cognitive distortion, yaitu cara berpikir keliru akibat informasi yang tidak utuh.
“Kita sering lupa, yang beredar di media sosial itu opini, bukan fakta. Akhirnya banyak yang menarik kesimpulan ekstrem seperti, ‘kalau begitu lebih baik tidak menikah’, padahal konteksnya tidak sesederhana itu,” ujarnya.