JAKARTA – Jam mewah merk Rolex yang diberikan Presiden Prabowo Subianto kepada para penggara Tim Nasional Indonesia menjadi polemik.
Kemenangan 1-0 Timnas Indonesia atas China pada matchday sembilan Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, Kamis (5/6/2025) disambut suka cita.
Tambahan tiga poin tersebut cukup meloloskan skuad besutan Patrick Kluivert melaju ke putaran empat untuk pertama kalinya. Kebahagiaan atas kemenangan Indonesia mendorong Presiden Prabowo mengundang para pemain untuk makan siang di kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, keesokan harinya.
Dalam momen tersebut, Prabowo diketahui membagikan jam tangan mewah bermerek Rolex kepada ofisial dan jajaran pemain timnas. Salah satu penggawa timnas yang mengunggah pemberian Prabowo adalah Justin Hubner, melalui Instagram Stories-nya.
Pemberian hadiah jam tangan Rolex ini menjadi perbincangan hangat warganet. Di media sosial, respons warganet terpecah menjadi dua. Mereka yang sepakat meyakini bahwa ini adalah bukti kepedulian sang presiden terhadap timnas.
Sedangkan bagi mereka yang kontra, tindakan Prabowo ini dinilai terlalu mengistimewakan sepak bola, meski prestasinya bisa dibilang tidak semewah cabang olahraga lainnya.
Ketimpangan Anggaran
Salah satu yang kontra dengan pemberian jam Rolex Prabowo untuk penggawa timnas adalah mantan atlet wushu Lindswell Kwok. Perempuan kelahiran 1991 ini menumpahkan keluh kesahnya tentang kesenjangan perhatian pemerintah untuk para atlet di Indonesia lewat Instagram pada 8 Juni.
Perempuan yang dijuluki ratu wushu Indonesia itu menuturkan, sejumlah atlet junior wushu yang dipersiapkan untuk Youth Olympic Games 2026 telah dipulangkan secara mendadak oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga pada Maret melalui zoom. Alsan pembubaran itu karena adanya efisiensi anggaran.
Padahal anak-anak tersebut telah menjalani pelatnas selama delapan bulan dan meninggalkan sekolah demi latihan intensif.
"Kemenpora memanggil anak-anak ini untuk datang ke pelatnas. Mereka mengorbankan sekolah untuk fokus di pelatnas tapi tiba-tiba dipulangkan?" tulis Lindswell Kwok.
"Bukan karena sejawat kita dapat apresiasi lalu kita kepanasan. Bukan. Tapi lihat dulu siapa yg kasih, Presiden."
"Di masa efisiensi, di mana cabor lain dicuekin. Cabor yang terkenal dan banyak peminat diperhatikan," kata dia.
"Dan ini cuma salah satu dari sekian banyak hal yang dialami cabor-cabor unggulan tapi enggak seterkenal bola," ujar perempuan asal Medan, Sumatra Utara ini.
Menurut Lindswell, perlakuan istimewa terhadap sepak bola mencerminkan ketimpangan dalam kebijakan anggaran olahraga nasional. Ia menyebut sepak bola mendapat anggaran hampir Rp 200 miliar, sedangkan cabang lain hanya di kisaran Rp 10-30 miliar.
Ini bukan pertama kalinya atlet non-sepak bola mengeluhkan perlakuan istimewa terhadap sepak bola. Saat arak-arakan seusai gelaran SEA Games 2023, perenang I Gede Siman Sudartawa menilai cabang sepak bola terlalu diistimewakan.
Ungkapan ini bermula ketika keberangkatan arak-arakan terlambat karena menunggu bus double decker yang dinaiki Timnas U-22. Selain itu, Siman juga mempertanyakan kenapa skuad timnas mendapat kendaraan berbeda dibanding atlet lainnya.
Sebagai informasi, waktu itu Garuda Muda sukses menyabet emas di SEA Games 2023. Sementara itu, Siman nuga menyumbang emas dari cabor renang nomor 50 meret gaya punggung putra di ajang yang sama.
Kontradiksi Efisiensi
Efiensi anggaran di semua lembaga atau kementerian menjadi langkah yang ditempuh di awal kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, termasuk Kemenpora.
Imbasnya, Menpora Dito Ariotedjo menuturkan ada pemangkasan anggaran sebesar Rp1,29 triliun untuk penyelenggaraan program kerja tahun 2025. Dari sebelumnya sebesar Rp2,330 triliun, berkurang menjadi Rp1,034 triliun.
Tapi Dito menegaskan pemerintah tetap berkomitmen dalam upaya peningkatan prestasi olahraga meski terkena badai pengetatan anggaran.
"Pastinya arahannya adalah bagaimana dengan efisiensi ini persiapan atlet menuju Asian Games, Olimpiade, dan juga kualifikasi Piala Dunia tidak terganggu," kata Dito.
Sebelum berita soal pemberian jam Rolex oleh Prabowo, dunia olahraga Tanah Air berulang kali mengirim kabar tak mengenakkan. Awal tahun ini, Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia harus memulangkan para atlet pelatnas di Pangalengan, Jawa Barat, akibat efisiensi anggaran.
Yang lebih memilukan, para atlet binaraga Kabupaten Malang terpaksa mengonsumsi ayam tiren – mati kemarin – demi memenuhi kebutuhan protein hewani. Dalam sehari, mereka katanya bisa menghabiskan 1,5 sampai 2 kilogram dada ayam. Alasannya karena tidak ada dana untuk membeli ayam dalam kondisi baik.
Kabar ini beredar pada awal Mei lalu, saat mereka dikenar untuk persiapan laga Porprov Jatim IX 2025 yang diselenggarakan Juni ni.
Kenyataan-kenyataan pahit ini tidak pernah dialami, setidaknya begitu yang tergambar di masyarakat, oleh para penggawa timnas.
Ini terligat dari adanya perbedaan jumlah bantuan dari pemerintah kepada 13 cabor yang dianggap unggulan pada April lalu. Di antara 13 cabor unggulan itu ada bulu tangkis, menembak, atletik, panahan, dayung, angkat besi, judo, renang, balap sepeda, senam, surfing, akuatik, serta sepak bola.
Total bantuan dana tersebut adalah Rp420 miliar. Mengutip laman Kemenpora, PSSI yang menaungi cabor sepak bola mendapat porsi bantuan dana pelatnas terbanyak, hampir Rp200 miliar.
Menpora Dito menjelaskan, bantuan untuk PSSI memang bersifat khusus. Lantaran sepak bola dianggap sebagai cabor strategis dan berpotensi tinggi berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Sepak Bola Nasional.
“Berdasarkan Inpres, PSSI mendapatkan anggaran tidak hanya untuk pelatnas, tetapi untuk pengembangan sepak bola secara keseluruhan,” sebut Menpora Dito.
Agenda Politik
Royalnya Presiden Prabowo kepada Timnas Indonesia kemudian disangkutpautkan dengan politik. Banyak yang meyakini, sepak bola dijadikan alat politik oleh mantan Menteri Pertahanan tersebut.
Makalah berjudul Populism and Sports in Latin America: Old and New Ways of Narrating the Nation (2021) yang ditulis Pablo Alabarces menuturkan, seiring meningkatnya popularitas sepak bola, para elite politik tidak hanya memanfaatkannya sebagai ruang untuk memperoleh visibilitas atau keterlihatan di khalayak, melainkan alat dalam membentuk narasi identitas.
Untuk memengaruhi penduduk setempat ke berbagai agenda politik, Alabarces menuturkan, politisi semakin mensponsori berbagai acara dan turnamen olahraga yang berujung pada lahirnya klub-klub lokal di berbagai kota. Fenomena semacam ini tumbuh di Amerika Latin.
Dengan memberikan dukungan finansial kepada tim olahraga dan asosiasi olahraga, politisi memanfaatkan hubungan emosional yang dimiliki orang-orang dengan pemain favorit mereka, sehingga selanjutnya memperkuat pijakan politik mereka.
BACA JUGA:
Peneliti Ganesport Foundation dan pengamat sepak bola, Dex Glenniza, mengatakan, negara yang terlalu fokus ke timnas sepak bola yang "tidak berprestasi" bisa jadi "jebakan untuk jangka panjang."
"Apalagi melihat cabor lain lebih berprestasi," katanya.
Di tengah situasi seperti sekarang, bentuk dukungan dari elite politik, termasuk presiden, mungkin sebaiknya sebatas datang ke stadion menyaksikan pertandingan. Soal pemberian barang mewah, terlepas itu dari kantong pribadi, bisa ditunda sampai timnas benar-benar memenuhi target lolos ke Piala Dunia.