Bagikan:

JAKARTA – Rendahnya kesadaran masyarakat terkait autisme masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Kemampuan orang tua dalam mendeteksi dini sangat penting untuk bisa melakukan penanganan lebih awal, sehingga gangguan perkembangan yang dialami anak dapat diminimalkan.

Anak dengan autisme seringkali dipandang berbeda dengan yang lainnya. Anggapan tersebut tidak salah, karena umumnya anak dengan autisme mengalami kesulitan berkomunikasi dengan yang lain sehingga sulit bersosialisasi.

Namun perlu diketahui, gejala autisme sangat beragam dan bisa berbeda-beda antara satu individu dengan yang lainnya, meski ada beberapa tanda yang umum, seperti keterlambatan bicara, kesulitan memahami isyarat sosial, dan ketertarikan pada rutinitas tertentu.

Dokter Spesialis Anak Hanna Dyahferi Anomsari, Sp.A, Subsp.T.K.P.S.(K) mengatakan tingkat pendidikan orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam mendeteksi gangguan perkembangan pada anak.

Seorang anak berkebutuhan khusus (autisme) mendapat terapi sensory integrasi dari terapis di Pusat Layanan Autis (PLA). (ANTARA/Mohammad Ayudha/am)

Untuk gejala awal, Hanna menjelaskan bisa dimulai dengan mengidentifikasi respons yang minim ketika nama anak dipanggil hingga usia 12 bulan, sampai pada kegagalan menunjuk objek atau orang pada usia 14 bulan. Dengan identifikasi dini, maka dapat membuka jalan intervensi tepat waktu.

“Interaksi mata yang terbatas dan respons yang tampak lepas saat berkomunikasi dengan anak-anak boleh jadi merupakan indikasi awal,” kata Hanna dalam seminar media mengenai Skrining dan Terapi Autisme pada Anak yang diselenggarakan Pengurus Besar Ikatan Dokter Anak Indonesia, Selasa (15/4/2025).

Cenderung Memiliki IQ Tinggi

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada 2020 menyebut 1 dari 58 anak mengalami autisme. Prevalensi ini cenderung meningkat dalam 50 tahun terakhir.

Namun demikian, saat ini belum ada penelitian khusus yang dapat menyajikan data autisme pada anak di Indonesia. Bisa diasumsikan dengan prevalensi autisme pada anak di Hongkong, di mana jumlah anak usia 5-19 tahun di Indonesia mencapai 66.000.905 jiwa, maka diperkiraka terdapat lebih dari 112 ribu anak penyandang autisme pada rentang usia 5-19 tahun.

Autism Spectrum Disorder atau ASD adalah gangguan perilaku yang dialami seseorang terkait dalam tiga domain utama, yaitu sosial, komunikasi, dan tingkah laku yang berulang.

Kata autisme sendiri pertama kali dikemukakan oleh psikiater Eugen Bleuler pada 1911. Istilah tersebut ia gunakan untuk menggambarkan sekelompok gejala yang dianggap sebagai gejala sederhana skizofrenia yaitu penarikan sosial secara ekstrem.

Barulah pada 1943, psikiater di John Hopkins University, Leo Kanner, untuk pertama kalinya mempublikasikan hasil studi pada autisme. Ia mengemukakan pernyataan bahwa autisme adalah gangguan sosial dan emosional dalam studinya berjudul Autistic Disturbances of Affective Contact.

Kanner meyakini anak-anak dengan autisme memiliki level kecerdasan normal dan berfungsi baik, namun ada hal lain yang membuatnya terlhat salah. Belakangan, hipotesa Kanner terbukti benar.

Banyak penelitian yang menunjukkan anak-anak dengan autisme cenderung punya tingkat kecerdasan atau IQ yang tinggi. Inteligence Quotient (IQ) adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang.

Penyebab Tidak Diketahui

Sampai saat ini, diagnosis autisme masih gampang-gampang susah karena gejala yang ditunjukkan antara satu individu dengan yang lain bisa berbeda dan sangat beragam. Misalnya pada anak A mengalami kesulitan berbicara, memiliki kosakata terbatas, dan cenderung mengulang-ulang satu kata ketika berkomunikasi.

Sementara anak lainnya, meski kelihatan memiliki cara komunikasi yang lebih normal, namun kenyataannya tidak. Anak ini menampilkan banyak dialog, namun sebenarnya tidak dalam frekuensi perbincangan yang sama dengan kawan-kawannya.

Contohnya adalah ketika ia tidak tertawa ketika teman-temannya mengeluarkan lelucon, atau justru tertawa sendiri padahal teman-temannya merasa tidak ada humor yang memicu tawa. Ini terjadi karena orang-orang autism memiliki “frekuensi” sendiri dalam memandang beberapa hal di dunia.

Seorang anak penderita autisme melukis payung. (ANTARA/Rafidudin Abdul Rahaman)

Dokter Amanda Soebadi, Sp.A, Subsp.Neuro.(K),M.Med menuturkan penyebab autisme sampai sekarang belum diketahui secara jelas.

"Ada seribu anak dengan autisme, kita akan mendapatkan seribu gambaran gejala yang berbeda. Enggak ada satupun, walaupun ada rambu-rambunya kriteria diagnosis, tapi tidak ada satupun yang persis sama,” tutur Amanda.

Ia melanjutkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik dan lingkungan berperan besar dalam pembangunan gangguan ini. Meski demikian, penting untuk memahami bahwa autisme bukanlah kondisi yang statis atau tetap. Anak dengan autisme bisa berkembang dan berfungsi dengan baik jika mendapatkan dukungan yang tepat.

Perlu Ruang untuk Berkembang

Meski kesadaran mengenai autisme terus berkembang, tidak sedikit orang yang menganggap autisme adalah sesuatu yang aneh. Amanda mengakui, walau sekarang ada alat skrining autisme yang dapat digunakan, banyak orang tua yang masih terjebak dalam mitos seputar autisme.

Tidak jarang para orang tua malah membawa anak mereka ke pengobatan tradisional karena percaya anak mereka kena guna-guna. Padahal dengan penanganan medis yang tepat, anak-anak dengan autisme bisa berkembang dengan sangat baik.

"Jadi ada beberapa pasien saya datang sudah di usia 8-9 tahun itu saya tanya, kok baru sekarang gitu ya? Kenapa baru sekarang? Oh iya dok, soalnya kata dukunnya atau kata orang tua sesepuh-sesepuh itu bilang ini diguna-guna, sehingga mereka terapinya ke tradisional gitu ya," jelasnya.

Malachi Signore, seorang pemuda penderita autisme yang berhasil menjadi juara tinju amatir di Youngstown, Ohio. (Tribune Chronicle/Neel Madhavan)

Padahal dengan deteksi dini, dapat membantu meningkatkan kualitas hidup anak. Amanda juga menegaskan, anak-anak dengan autisme tidak hanya membutuhkan dukungan orang tua dan tenaga medis, tetapi juga dari sekolah dan masyarakat.

Mereka perlu diberi ruang untuk berkembang, belajar, dan berinteraksi tanpa rasa takut atau dihakimi. Dengan dukungan yang tepat, anak-anak dengan ASD dapat berkembang dan berfungsi di masyarakat.