Bagikan:

JAKARTA – Di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di industri kreatif yang memantik kontroversi, film animasi Jumbo berhasil mencatat sukses luar biasa. Menurut pakar, ini menjadi bukti bahwa film animasi tetap membutuhkan sentuhan tangan yang tak tergantikan oleh apa pun.

Film animasi asli Indonesia, Jumbo, mencatat kesuksesan luar biasa di dalam negeri. Sejak tayang perdana pada Lebaran 2025, 31 Maret, film yang disutradarai Ryan Adriandhy ini dinobatkan sebagai animasi Indonesia terlaris sepanjang masa dengan rekor penonton menembus angka tiga juta lebih.

Sukses film karya Visinema Animation ini karena banyak faktor. Selain cerita yang dibangun relate dengan kehidupan sehari-hari, Jumbo juga menarik atensi jutaan penonton karena menyuguhkan animasi yang disebut-sebut bisa bersaing dengan karya studio luar negeri sekelas Pixar.

Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengatakan, kesuksesan Jumbo menunjukkan bahwa animasi buatan manusia masih memiliki daya tarik yang kuat, meski di tengah gempuran pemanfaatan AI.

AI Meniru Gambar Gaya Studio Ghibli

Film Jumbo muncul di tengah makin kencangnya tren pemanfaatan AI di industri digital. Bahkan belum lama ini, warganet dibuat heboh dengan munculnya gambar-gambar buatan AI bergaya Studio Ghibli.

OpenAI, pemilik platform ChatGPT, baru-baru ini meluncurkan generator gambar terbarunya pada platform ChatGPT-4o. Platform tersebut memungkinkan para pengguna membuat gambar bergaya khas studio animasi, Ghibli, asal Jepang.

Sebagai informasi, Studio Ghibli adalah perusahaan animasi Jepang yang kantor pusatnya di Tokyo. Studio ini didirikan oleh sutradara Hayao Miyazaki dan Isao Takahata serta produser Toshio setelah mengakuisisi aset Top Crave pada 15 Juni 1985.

Studio Ghibli terkenal dengan karya-karyanya di industri animasi global. Sudah banyak jutaan penonton di seluruh dunia yang menikmati karyanya, serta banyak memenangkan penghargaan.

Hayao Miyazaki, salah satu pendiri Studio Ghibli. (Internet Movie Database)

Kemunculan ChatGPT yang meluncurkan fitur terbarunya dengan mengubah menjadi anime bergaya Studio Ghibli menjadi perdebatan.

Seorang pengguna di platform X mengaku, gambar yang dihasilkan dari kecerdasan buatan memberi nuansa canggih dan penuh nostalgia, seolah-olah itu adalah adegan dari kenangan lama. Ia pun menyebut gambar-gambar lamanya menjadi lebih indah setelah diubah dengan AI.

Tapi tak sedikit pula yang mengkritik penggunaan AI untuk mengubah gambar menjadi bernuansa Ghibli. Aksi ini, menurut warganet lainnya, bisa dikategorikan sebagai aksi mencuri kreativitas orang lain, apalagi karya Studio Ghibli dibuat tidak dengan mudah dan murah.

Beberapa sumber mengatakan, untuk satu adegan berdurasi empat detik dalam film karya Studio Ghibli butuh waktu satu tahun lebih membuatnya.

AI Tak Bisa Mencetuskan Ide Abstrak 

Selain soal mencuri karya seni yang tidak etis, gambar atau video buatan AI juga dianggap tak ‘bernyawa’ seperti buatan manusia, seperti yang dituturkan Heru Sutadi. Menurutnya, Jumbo sukses memikat perhatian penonton tak sekadar karena visualnya yang memukau, tapi juga cerita yang hangat, universal, dan penuh makna.

Film ini, kata Heru, menawarkan nostalgia, nilai-nilai seperti persahabatan, keberanian, dan kepercayaan diri.

“Seperti kita ketahui, AI, meskipun mampu menghasilkan animasi dengan cepat dan efisien, seringkali kekurangan 'jiwa' atau emosi yang autentik,” ujar dia.

Sejumlah gambar yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan atau AI menuai kontroversi. (Ist)

Selain itu, film animasi ini juga menunjukkan bahwa nilai seni sejati, yang melibatkan proses kreatif mendalam, storytelling dan keunikan personal, tidak mudah digantikan oleh AI, kata Heru.

Sementara itu, pakar Komunikasi Digital dari Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan menuturkan, untuk mendapat sebuah karya maka film animasi seperti Jumbo seharusnya tak perlu mengkhawatirkan persaingan dengan AI.

Karena pada dasarnya, yang bisa dilakukan oleh AI hari ini masih sebatas kemampuan teknis.

“AI sebatas itu, tapi bahwa ide yang sifatnya abstrak itu belum bisa dihasilkan oleh AI. AI tidak mempunyai gagasan, tidak mempunyai kehendak untuk menciptakan sebuah jalan cerita tertentu, nah itu keterbatasan AI,” jelasnya.

Meski demikian, Firman tidak menampik bahwa AI terlihat canggih. AI bisa saja menerjemahkan sebuah ide atau gagasan seseorang menjadi karya yang menarik. Sehingga secara tidak langsung, AI ini memadukan ide gagasan yang ada di pikiran manusia kemudian diwujudkan AI.

“Tapi memang AI tidak selalu lebih unggul, tidak selalu lebih pasti akan menang, belum tentu, karena di balik sebuah karya itu kan ada gagasannya, itu AI belum menjangkau sampai di situ,” tandasnya.