Psikolog: Beban Pikiran Editor Metro TV Pemicu Bunuh Diri Tak Boleh Dianggap Enteng
Yodi Prabowo

Bagikan:

JAKARTA - Ahli psikolog forensik, Reza Indragiri, menyebut beban pikiran menjadi pemicu percobaan bunuh diri editor Metro TV, Yodi Prabowo, tak bisa dianggap sebagai hal remeh. 

Terlebih, sebelum meninggal, Yodi sempat bertanya kepada kekasihnya, Suci, bagaimana jika dirinya sudah tidak ada. Dalam artian, ia meminta tanggapan suci soal kemungkinan hidup Yodi akan berakhir.

"Barang kali, masyarakat menganggap sepele perkataan semacam itu. Tapi dari perspektif psikologi, kalimat tersebut merupakan pertanda pemikiran tentang bunuh diri. Pemikiran semacam ini sama sekali tidak boleh dianggap enteng," kata Reza saat dihubungi, Sabtu, 25 Juli.

Reza menuturkan, dalam penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 60 persen transisi dari pemikiran tentang bunuh diri ke rencana bunuh diri, lalu berlanjut ke pewujudan bunuh diri tersebut berlangsung dalam kurun 12 bulan, sejak pemikiran itu muncul untuk pertama kalinya.

"Cepatnya proses transisi itu mengirim pesan bahwa masyarakat harus lebih serius menyikapi perkataan tentang bunuh diri yang dikemukakan siapapun," ungkap Reza.

Terlebih, dalam pemeriksaan forensik tubuh Yodi, juga ditemukan fakta bahwa ia sempat mengonsumsi amfetamin. Amfetamin adalah kandungan dalam narkoba yang dapat memengaruhi sistem saraf pada manusia. Efek dari konsumsi amfetamin adalah rasa tenang, senang, dan berani.

Ditambah, sebelum mengakhiri hidupnya Yodi dinyatakan  sempat berkonsultasi dengan dokter penyakit kulit dan kelamin lalu menjalani tes HIV.  Hal inilah yang memicu Yodi bisa membunuh dirinya dengan menusuk dada berkali-kali dan menyayat lehernya.

"Dalam kasus bunuh diri dengan modus yang mengakibatkan banyak perlukaan, kita harus mewaspadai komorbiditas," ujar Reza.

 

"Maksudnya, ada beberapa kondisi yang berlangsung bersamaan pada satu individu. Misalnya, depresi dan penyalahgunaan obat-obatan. Efeknya terhadap risiko bunuh diri juga akan semakin tinggi," tambahnya.

Seperti diketahui, Yodi ditemukan meninggal pada Jumat 10 Juli di pinggir Jalan Tol JORR, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Yodi ditemukan meninggal bunuh diri setelah tiga hari menghilang. Saksi menemukan jenazah Yodi mengenakan jaket hijau, celana hitam, tas selempang hitam, memakai sepatu dan masih mengenakan helm.

Dari hasil pemeriksaan, Yodi meninggal akibat luka tusuk di dada dan lehernya. Laboratorium forensik Polda Metro Jaya telah memeriksa sidik jari dan DNA pada sebilah pisau yang ditemukan di sekitar jasad Yodi. 

Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa pada sebilah pisau tersebut hanya ditemukan sidik jari dan DNA korban. Setelah ditelusuri, ternyata Yodi sendiri yang membeli pisau sebagai alat untuk mengakhiri hidupnya.