Sederet Penyelidikan Polisi Hingga Menyimpulkan Editor Metro TV Bunuh Diri
Yodi Prabowo

Bagikan:

JAKARTA - Polisi menyimpulkan editor Metro TV Yodi Prabowo meninggal karena bunuh diri. Hal itu berdasarkan bukti yang dikumpulkan serta pemeriksaan sejumlah saksi.

Namun, pihak keluarga merasa kecewa dengan hasil penyelidikan tersebut. Sebab, mereka tetap yakin jika anggota keluarganya itu menjadi korban pembunuhan.

Untuk itu, VOI merangkum hasil penyelidikan hingga akhinya polisi menyimpulkan jika Yodi meregang dengan cara bunuh diri.

Di awal penyelidikan, polisi sempat menduga jika Yodi merupakan korban pembunuhan dan pembegalan. Sebab, saat pertama kali ditemukan di pinggir Jalan Tol JORR, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada 10 Juli, ada beberapa bekas luka tusuk di bagian dada dan lehernya.

Munculnya dugaan tersebut tak hanya bekas luka tusuk yang ditemukan. Lokasi penemuan jasad Yodi yang memang dikenal kawasan yang sepi aktivitas memperkuat dugaan awal tersebut.

Tetapi seiring berjalannya proses penyelidikan, dugaan korban pembegalan atau perampokan tak terbukti. Alasannya, barang berharga milik Yodi tidak ada yang hilang. Motor, dompet, dan ponsel, ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Dengan pembuktian dugaan pembegalan tidak terbukti, maka dugaan Yodi dibunuh kuat. Apalagi beberapa saksi termasuk Suci yang merupakan kekasih Yodi menyebut ada indikasi yang mengarah ke unsur pembunuhan.

Beberapa kali Suci sempat menyatakan jika kekasihnya meninggal lantaran adanya orang ketiga di balik hubungannya. Selain itu, dua saksi yang merupakan warga sekitar pun menyebut sempat melihat sosok terduga pelaku.

Hanya saja, tak ada bukti kuat untuk memastikan dugaan-dugaan itu sebagai motif pembunuhan Yodi. Hingga akhirnya, tepat kurang lebih dua pekan polisi mengungkap jika editor Metro TV itu tewas akibat bunuh diri.

Kesimpulan yang sangat mengejutkan bagi pihak keluarga Yodi itu pun diklaim berdasarkan hasil penyelidikan. Beberapa di antaranya pemeriksaan DNA rambut dan sidik jari pada pisau yang ditemukan di lokasi kejadian.

Rambut yang diduga milik pelaku itu pun dibawa ke Laboratorium Forensik (Labfor) untuk diperiksa. Tetapi, dinyatakan jika rambut itu merupakan milik Yodi. Begitu pun soal pisau. Tak ada sidik jari selain milik korban.

"Sementara ini sidik jari ada ditemukan adalah ada sidik jari korban dan juga DNA si korban sendiri," ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus

Selain itu, berdasarkan hasil penyelidikan ternyata tidak ditemukan bekas luka yang diakibatkan hantaman benda tumpul. Sebelumnya, ditemukan bekas luka lebam di sekitar leher. Sehingga, muncul dugaan jika Yodi terlebih dahulu dianiaya sebelum dibunuh.

"Hasil dari kedokteran forensik tidak ada pemukulan dan tidak ada benda tumpul yang mengenai korban. Korban murni adanya tusukan di dada dan di leher. Ini yang mengakibatkan korban meninggal dunia," kata Yusri.

Bahkan, dari pisau itu pula polisi bisa menyimpulkan motif perkara tersebut. Berdasarkan hasil penelusuran, pisau tersebut dimiliki oleh Yodi yang dibeli sebelum berangkat bekerja.

Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Tubagus Ade Hidayat mengatakan, proses Yodi membeli sebilah pisau itu di salah satu toko pun terekam kamera pengawas yang ikut dijadikan barang bukti. Sehingga, motif bunuh diri semakin kuat.

"Pisau diduga kuat sebagai alat yang melukai. Pisau tersebut memiliki merk khas khusus yaitu Ace Hardware. Hanya toko itu yang menjual pisau tersebut," kata Tubagus.

"Saat kita melakukan pemeriksaan ke toko tersebut, dalam satu minggu terakhir, hanya satu pisau jenis itu yang laku. Kemudian dicek CCTV, dan didapatkan fakta bahwa pisau dibeli oleh korban sendiri," sambungnya

Selain itu, pada proses penyelidikan polisi juga mendalami terkait transaksi keuangan Yodi. Dari sanalah ditemukan bahwa Yodi sempat melakukan pembayaran transaksi konsultasi ke dokter kulit kelamin di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menggunakan kartu debit BCA.

Selain itu, Yodi juga melakukan pengecekan virus HIV. Virus ini ditularkan lewat hubungan seksual atau penggunaan jarum suntik narkoba. Namun, polisi tidak menyebutkan hasil apakah Yodi positif HIV atau tidak.

"Sampai saat itu, hasilnya belum diambil oleh dia. Tapi apakah konsultasi di dokter penyakit kelamin ini terkait dnegan bunuh diri, bisa sangat terkait. Tapi, ini butuh keterangan psikologi forensik," jelas Tubagus.

Bahkan, dari hasil pemeriksaan urine, Yodi dinyatakan sempat mengonsumsi amfetamin yang diperkirakan dua sampai tiga hari sebelum pemeriksaan.

"Kami melakukan screening narkoba di dalam urine korban.  Kami temukan ada kandungan amfetamin positif. Perkiraan pemakaian dua sampai 3 hari sebelum pemeriksaan," kata Tubagus.

Amfetamin adalah obat yang dapat memengaruhi sistem saraf pada manusia. Efek dari konsumsi amfetamin adalah rasa tenang, senang, dan berani.

Tubagus menduga, ada rasa depresi dalam diri Yodi karena masalah pribadi. Lalu, niat bunuh diri semakin kuat dengan penggunaan obat amfetamin tersebut.

Obat ini juga memicu Yodi bunuh diri dengan tusukan berkali-kali. Yodi menusuk dadanya sebanyak 4 kali. Ada luka tusuk yang hanya sampai ke jaringan otot, ada tusukan yang lebih dalam sampai menembus paru-paru.

Sementara pada leher, sayatan pisau memotong tenggorokkan Yodi tapi tidak memotong pembuluh darah. Selain itu tidak ada luka lain, hanya luka lebam benturan benda tumpul. 

"Efeknya amfetamin ini meningkatkan keberanian yang luar biasa. Jangan bandingkan ini dengan orang normal. Karenanya, yang harus diukur (dari penggunaan amfetamin) adalah bagaimana melakuakn tindakan yang tidak dilakuan orang normal," ucap dia.

Dengan sederet hasil penyelidikan polisi tersebut, memperkuat kesimpulan jika Yodi tewas akibat bunuh diri.