Tiga Tantangan Indonesia ke Depan Versi World Bank
Tangkap layar Lead Economist World Bank Indonesia Frederico Gill Sander. (Mery Handayani/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Lead Economist World Bank Indonesia Frederico Gill Sander mengatakan, ke depan ada tiga tantangan yang akan dihadapi oleh Indonesia. Selain pandemi COVID-19 yang memberikan dampak negatif dan belum adanya kepastian kapan akan berakhir, Indonesia juga akan mengalami resesi ekonomi menyusul Singapura.

"Ada tiga tantangan yakni dampak COVID-19, resesi, dan tekanan utang yang perlu diatasi pada tahun-tahun ke depan," katanya, dalam peluncuran Indonesia Economic Prospect, Kamis, 16 Juli.

Frederico mengatakan, untuk memperbaiki kurva pandemi, Indonesia harus punya sistem kesehatan yang mumpuni untuk menangani kasus baru hingga vaksin ditemukan. Namun, dengan catatan sistem ini dapat membuat orang yakin dan merasa aman di tengah pandemi COVID-19.

"Banyak orang yang belum merasa yakin. sistem kesehatan yang solid ini perlu untuk meningkatkan confidence," ucapnya.

Lebih lanjut, Frederico juga menyarankan, pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kapasitas testing. Sebab, untuk menghindari peningkatkan kasus positif baru perlu melakukan tes sebanyak mungkin. Kemudian perlu ada tracing dari kasus terkonfirmasi.

Kedua, resesi. Frederico mengatakan, survei World Bank menunjukkan banyak perusahaan yang mengalami penurunan penjualan dan masih ada kebutuhan bagi orang dan badan untuk dukungan likuiditas. Selain itu, bantuan sosial kepada individu sangat membantu masyarakat di tengah resesi.

"Tiga hal penting yang perlu digarisbawahi ini adalah Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Perlu ada modernisasi bansos untuk menyalurkan bansos secara efektif. Pekerja informal itu penting untuk kita perhatikan. Perusahaan di banyak sektor harus tetap bertahan dan pulih, ini harus dijaga agar terhindar dari kebangkrutan. Mereka yang terdampak perlu diberi bantuan likuiditas lebih banyak," tuturnya.

Lebih lanjut, Frederico mengatakan, di masa resesi ekonomi, pemerintah Indonesia harus memperhatikan perusahaan yang sangat bergantung dengan tatap muka. Sebab, perusahaan-perusahaan tersebut sangat terdampak.

"Perlu dicegah pula spillover dari riil ke sektor keuangan. NPL perlu dijaga. Kita perlu update recovery dengan kerangka yang lebih baik. Perlu ada manajemen risiko sehingga sektor keuangan memiliki fondasi yang lebih kuat," ucapnya.

Ketiga, dari sisi utang akan meningkat dan mengurangi ruang fiskal, bila tidak dikelola dengan baik. Frederico mengatakan, stabilitas makro akan menjadi tantangan tersendiri dan menghambat pemulihan.

"Perlu subsidi yang lebih tepat sasaran, subsidi seperti LPG perlu dialihkan ke bantuan langsung tunai," tuturnya.

Selain itu, Frederico mengatakan, perlu adanya reformasi pajak. Menurut dia, tidak ada satu negara pun yang bisa jadi negara berpendapatan tinggi bila tax ratio-nya hanya 1 digit.