Bagikan:

JAKARTA - Ledakan kembali mengguncang pabrik Hanwha Aerospace di Daejeon, Korea Selatan, Senin (1/6). Lima orang tewas dan dua lainnya terluka di fasilitas perusahaan pertahanan yang pernah mengalami kecelakaan mematikan pada 2018 dan 2019 itu.

Yonhap dikutip Senin, 1 Juni, melaporkan, otoritas pemadam kebakaran menerima laporan ledakan pada pukul 10.59 waktu setempat. Sekitar 100 personel dikerahkan untuk memadamkan api di lokasi.

Lima korban tewas ditemukan di tempat kejadian. Dua di antaranya pegawai kontrak berusia 20-an tahun. Tiga lainnya pegawai tetap, terdiri atas dua orang berusia 50-an tahun dan satu orang berusia 30-an tahun.

Dua korban lain terluka. Satu orang mengalami luka bakar di seluruh tubuh. Satu lainnya mengalami luka ringan.

Ledakan diduga terjadi saat pekerja melakukan pembersihan. Seorang pejabat Hanwha Aerospace mengatakan proses itu berkaitan dengan sisa propelan roket, bahan pendorong yang digunakan dalam roket.

“Berbagai peralatan dibuat dalam proses produksi propelan roket, dan tampaknya ledakan terjadi saat pembersihan sisa propelan,” kata pejabat perusahaan itu dalam konferensi pers.

Petugas berhasil memadamkan api sepenuhnya pada pukul 13.07. Otoritas akan menyelidiki penyebab pasti ledakan.

Insiden ini menambah daftar kecelakaan di fasilitas Hanwha Aerospace. Pabrik tersebut mengembangkan mesin propulsi besar dan sistem senjata taktis permukaan-ke-permukaan.

Pada 2018, ledakan di pabrik itu menewaskan lima orang. Tahun berikutnya, ledakan lain kembali terjadi dan menewaskan tiga pekerja.

Pejabat perusahaan mengatakan Hanwha telah mengeluarkan dana besar setelah dua kecelakaan itu untuk membuat proses kerja lebih otomatis dan sistematis. Namun, proses yang terkait ledakan kali ini disebut awalnya tidak dianggap berisiko besar.

Api menghancurkan bangunan satu lantai seluas 544 meter persegi. Menurut pejabat, ukuran bangunan itu terlalu kecil untuk masuk daftar fasilitas yang wajib menjalani pemeriksaan keselamatan berkala oleh otoritas pemadam kebakaran.

Tak lama setelah ledakan, Presiden Lee Jae Myung memerintahkan upaya penyelamatan maksimal. Ia juga meminta penyelidikan menyeluruh dan langkah pencegahan agar kecelakaan serupa tidak kembali terjadi.