JAKARTA - Kesaksian tiga tentara cadangan Israel membuka sisi gelap operasi militer di Gaza. Mereka menyebut ada perintah menembak siapa pun yang melintasi atau mendekati Garis Kuning, zona pemisah sementara di Gaza timur.
Dikutip dari Anadolu Agency, Minggu, 31 Mei yang merujuk laporan The Associated Press, tiga tentara itu bertugas di sejumlah wilayah Gaza antara Oktober 2025 dan Januari 2026. Mereka meminta identitasnya dirahasiakan.
Anadolu menyebut para tentara itu ikut dalam perang genosida Israel di Jalur Gaza. Mereka mengaku berbicara karena marah dan sedih atas apa yang mereka lihat di lapangan.
Mereka menggambarkan aturan pelibatan selama gencatan senjata sebagai kacau. Aturan pelibatan adalah ketentuan kapan tentara boleh menggunakan kekuatan atau menembak.
Salah satu tentara menyebut gencatan senjata itu “lelucon”.
“Menyebut apa yang terjadi sebagai gencatan senjata tidak lain hanyalah lelucon,” kata seorang tentara.
BACA JUGA:
Garis Kuning merupakan zona pemisah sementara di Gaza timur. Garis itu membagi wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel dan wilayah tempat warga Palestina diizinkan tinggal.
Militer Israel sebelumnya menyatakan telah menguasai 53 persen wilayah Gaza setelah menempatkan ulang pasukan ke Garis Kuning pada Oktober. Langkah itu disebut bagian dari tahap pertama rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.
Namun, sumber Palestina menyebut batas tersebut terus bergeser ke barat dalam beberapa bulan terakhir.
Seorang tentara Israel mengatakan situasi di sekitar garis itu “seperti hutan”. Menurutnya, perintah yang diterima setelah gencatan senjata diumumkan sangat jelas.
“Jika ada orang melintasi garis ini, tembak di tempat,” ujarnya.
Tentara lain mengaku melihat rekan-rekannya bersorak dan saling memberi selamat setelah menargetkan kendaraan Palestina di dekat wilayah yang dikuasai Israel. Seluruh orang di dalam kendaraan itu disebut tewas.
Menurut tentara tersebut, pemandangan seperti itu telah menjadi hal biasa sejak gencatan senjata rapuh berlaku pada Oktober.
Menurut kesaksian yang dikutip Anadolu dari laporan AP, sebagian pasukan memperlakukan penembakan sebagai rutinitas. Sebagian bahkan disebut terlihat menikmati penembakan terhadap warga Palestina.
Militer Israel membantah menargetkan warga sipil hanya karena mereka mendekati garis tersebut. Kepada AP, militer Israel menyebut area di sekitar Garis Kuning sebagai wilayah operasi sensitif dan telah dipasangi tanda larangan mendekat.
Militer Israel juga menyatakan aturan pelibatan mereka mengharuskan peringatan sebelum penggunaan kekuatan. Namun, dalam situasi ancaman langsung, pasukan disebut berhak bertindak.
Namun, seorang tentara yang berbicara kepada AP dan Breaking the Silence, organisasi Israel yang mendokumentasikan kesaksian tentara, memberi gambaran berbeda.
Ia mengatakan pasukan sering berada terlalu jauh, bergerak terlalu cepat, dan bekerja dalam tekanan tinggi. Akibatnya, mereka tidak selalu bisa memastikan siapa target yang ditembak.
Tentara itu juga menyebut orang yang menembak atau memerintahkan serangan drone tidak selalu mengetahui identitas orang yang melintasi garis.
Menurutnya, permintaan serangan udara ke sebuah bangunan kadang dibuat “hanya berdasarkan intuisi dan perkiraan”, atau lokasi terakhir target terlihat.
Breaking the Silence menyatakan aturan pelibatan di Gaza menjadi longgar dan membuka ruang penggunaan kekuatan berlebihan, terutama terhadap orang yang melintasi Garis Kuning.
Masih menurut Anadolu Agency, Kantor Media Gaza menyebut serangan Israel telah menewaskan 929 warga Palestina dan melukai 2.811 orang sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober.
Data Palestina juga menyebut perang Israel di Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan 72.938 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 orang. Sebagian besar korban disebut perempuan dan anak-anak.
Kesaksian para tentara itu membuat pelaksanaan gencatan senjata di Gaza kembali disorot. Menurut mereka, warga yang melintasi atau mendekati Garis Kuning tetap berisiko menjadi sasaran tembak.