Bagikan:

JAKARTA - Temuan arkeologi baru di Turki membuka kembali bab penting sejarah awal Kekristenan. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah gambar Yesus sebagai Gembala yang Baik di Iznik, yang disebut sebagai gambar Kristus sangat awal paling terawat yang pernah ditemukan.

Dikutip dari The Independent, Selasa, 26 Mei, lukisan itu berasal dari awal hingga pertengahan abad ke-3 Masehi. Gambar tersebut ditemukan di makam keluarga bawah tanah yang tertutup rapat dan minim oksigen. Kondisi itu membuat pigmen fresko tetap nyaris utuh selama sekitar 1.800 tahun.

Detailnya masih jelas. Wajah Yesus, lipatan tunik, tangan, hingga domba jantan di pundaknya. Temuan ini memberi petunjuk bagaimana orang Kristen awal membayangkan Yesus: tanpa janggut, berambut pendek, dan mengenakan pakaian Romawi kelas atas.

Dalam dua tahun terakhir, arkeolog di Anatolia, wilayah yang kini menjadi Turki, menemukan sedikitnya selusin gereja yang sebelumnya tidak diketahui. Bangunan itu berasal dari abad ke-4 dan ke-5 Masehi.

Temuan lain mencakup makam Kristen kuno, prasasti, rumah gereja, hingga salah satu gambaran paling awal Santo George di Pergamon. Santo George kelak dikenal sebagai santo pelindung Inggris.

Banyaknya temuan ini mempertegas posisi Anatolia dalam sejarah Kekristenan. Wilayah itu cepat menjadi salah satu pusat iman Kristen, hanya beberapa dekade setelah penyaliban Yesus di Yerusalem pada awal 30-an Masehi.

Riset sejarah baru juga memberi gambaran lebih luas. Kekristenan berkembang dari kelompok kecil yang dianiaya menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi dalam tiga abad. Para peneliti menilai pertumbuhan itu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kemartiran, sistem kepedulian sosial Kristen awal, krisis politik-ekonomi Romawi, hingga kemungkinan angka kematian dini yang lebih rendah dibanding komunitas pagan.

Arkeolog juga menemukan bukti baru tentang pemujaan kaisar Romawi di wilayah Turki. Di Syedra, ditemukan jejak patung Kaisar Marcus Aurelius setinggi 3,5 meter. Di Bubon, sisa patung Aurelius setinggi 2,1 meter juga diidentifikasi. Temuan patung Hadrian dan Marcus Aurelius lain ditemukan di Alabanda dan Sagalassos.

Kultus kaisar penting karena membantu menjelaskan latar Kitab Wahyu. Kitab itu ditulis sekitar tahun 90 Masehi oleh Yohanes dari Patmos. Dalam teks itu, Kekaisaran Romawi disandikan sebagai “Binatang”, sementara Iblis disandikan sebagai “Naga”.

The Independent melaporkan, penggalian di sejumlah kota yang disebut dalam Kitab Wahyu menghasilkan bukti penting kehidupan Kristen awal. Di Laodicea, arkeolog menemukan rumah gereja abad ke-4. Rumah gereja adalah tempat ibadah Kristen sebelum gereja khusus dibangun.

Di Sardis, peneliti menyelidiki bangunan gereja besar awal abad ke-6 yang kemungkinan menjadi prototipe tradisi arsitektur terkait Hagia Sophia di Konstantinopel, kini Istanbul.

Di Smyrna, atau Izmir modern, para ahli meneliti grafiti Kristen berkode dari pertengahan abad ke-2 di dinding pusat perbelanjaan Romawi. Salah satunya memuat kata Logos, gelar Kristus yang berarti “Firman”.

Di Pergamon, arkeolog menemukan botol ziarah keramik awal abad ke-5 yang tampaknya menggambarkan Santo George membunuh naga. Mereka juga meneliti amfiteater tempat sedikitnya tiga orang Kristen diyakini dibakar hidup-hidup pada akhir abad ke-2. Amfiteater itu diperkirakan mampu menampung sedikitnya 25.000 penonton.

Di Efesus, salah satu kota terbesar dunia Romawi, arkeolog menemukan kawasan yang tertimbun abu akibat kebakaran besar. Lapisan abu itu mengawetkan jejak dunia Kristen Bizantium awal abad ke-6 dan ke-7, termasuk ribuan bejana, makanan hangus, dan toko suvenir untuk peziarah Kristen.

Profesor Candida Moss dari University of Birmingham menyebut banyaknya temuan Kristen awal di Turki memiliki arti besar.

“Anatolia, yang kini menjadi Turki, dalam banyak hal adalah tempat lahir Kekristenan awal,” kata Moss.

Menurut Moss, wilayah itu penting karena pernah dikunjungi rasul Petrus, Paulus, dan para misionaris awal lain. Ketika Kekristenan menjadi agama resmi kekaisaran, Romawi kemudian memindahkan ibu kota dari Roma ke wilayah yang kini menjadi Istanbul.