JAKARTA - Korea Utara menembakkan beberapa rudal balistik jarak dekat (CRBM) dan roket artileri ke Laut Barat pada hari Selasa, kata militer Korea Selatan, di tengah spekulasi Presiden Tiongkok Xi Jinping mungkin akan segera mengunjungi Korea Utara.
Kepala Staf Gabungan (JCS) militer Korsel mengatakan telah mendeteksi rudal yang diluncurkan dari daerah Jongju di Provinsi Phyongan Utara sekitar pukul satu siang, tanpa menjelaskan detailnya.
CRBM merujuk pada rudal balistik yang memiliki jangkauan relatif pendek kurang dari 300 kilometer.
Rudal-rudal tersebut terbang sekitar 80 kilometer sebelum mendarat di laut, kata JCS, seraya mencatat mereka sedang menganalisis spesifikasi pasti peluncuran tersebut dengan pihak Amerika Serikat.
JCS mengatakan Korea Utara menembakkan berbagai jenis proyektil, termasuk CRBM dan peluru dari peluncur roket ganda dalam apa yang tampaknya merupakan peluncuran campuran senjata semacam itu yang jarang terjadi.
Peluncuran tersebut juga diyakini melibatkan "drone bunuh diri."
"Kami telah meningkatkan pengawasan dan pemantauan sebagai persiapan untuk kemungkinan peluncuran tambahan dan secara erat berbagi informasi terkait dengan Amerika Serikat dan Jepang sambil mempertahankan kesiapan penuh," kata Kepala Staf Gabungan (JCS), dikutip dari The Korea Times (26/5).
Peluncuran rudal Korea Utara terjadi di tengah spekulasi Presiden Xi kemungkinan akan mengunjungi Korea Utara akhir bulan ini atau awal bulan depan.
Sebelumnya, Presiden Xi mengadakan pembicaraan puncak dengan Presiden AS Donald Trump di Beijing awal bulan ini.
BACA JUGA:
Peluncuran terbaru ini menandai penembakan rudal balistik kedelapan oleh Korea Utara sejauh tahun ini.
Korea Utara terakhir kali menembakkan beberapa rudal balistik jarak pendek ke Laut Timur pada 19 April. Media pemerintah Pyongyang kemudian mengatakan mereka melakukan peluncuran rudal balistik permukaan-ke-permukaan yang melibatkan pengujian bom klaster.
Mereka menguji tembak rudal jelajah strategis dan anti-kapal perang dari kapal perusak Choe Hyon di atas Laut Barat pada 12 April, yang diawasi oleh pemimpin Kim Jong-un.