Bagikan:

JAKARTA - Arkeolog di Jerman menemukan buku catatan pedagang abad pertengahan dalam kondisi nyaris utuh. Tempatnya tidak biasa. Sebuah toilet abad ke-14.

Menurut laporan The Independent dikutip Jumat, 12 Mei, temuan itu ditemukan di North Rhine-Westphalia atau NRW, Jerman. Buku kecil tersebut terbuat dari kulit, kayu, dan lilin. Kini, benda itu sedang direstorasi oleh Landschaftsverband Westfalen-Lippe atau LWL di Münster.

“Ini satu-satunya temuan seperti ini di seluruh NRW,” kata arkeolog LWL Barbara Rüschoff-Parzinger.

Bagi arkeolog, toilet tua bukan sekadar tempat kotor. Di sana, benda-benda lama bisa tersimpan baik karena kondisi tanah dan kelembapan.

“Kedengarannya aneh, tetapi bagi kami arkeolog, toilet hampir selalu menjadi lubang harta karun,” kata Rüschoff-Parzinger.

Yang membuat mereka terkejut, kali ini yang ditemukan bukan pecahan biasa, melainkan buku lengkap.

Arkeolog berharap teks di dalam buku itu bisa dibaca kembali dengan teknologi tinggi. Jika berhasil, isinya dapat membuka cerita tentang kehidupan sehari-hari di Jerman lebih dari 800 tahun lalu.

Analisis awal menunjukkan buku itu kemungkinan milik seorang pedagang abad pertengahan dari Kota Paderborn. Pada masa itu, pedagang termasuk kelompok terdidik.

“Para pedagang bisa membaca dan menulis, tidak seperti kebanyakan orang,” kata arkeolog kota Sveva Gai.

Namun, bagaimana buku itu bisa masuk ke toilet masih belum jelas.

“Benda itu mungkin jatuh ke sana karena kecelakaan,” kata Gai.

Buku tersebut terdiri dari 10 halaman. Delapan halaman berisi tulisan di dua sisi. Halaman pertama dan terakhir hanya diberi lilin pada satu sisi.

Buku itu ditemukan dalam keadaan terikat dan dibungkus sampul kulit kecil. Saat pertama ditemukan, bentuknya tidak mencolok karena tertutup gumpalan tanah basah.

“Benda itu baru terlihat jelas saat dibersihkan di bengkel restorasi kami di Münster,” kata pemugar LWL Susanne Bretzel.

Meski sudah berabad-abad terkubur di toilet, baunya belum sepenuhnya hilang.

“Temuan di dalam tanah itu masih memiliki bau yang cukup tidak sedap,” kata Bretzel.

Sampul kulitnya justru terawetkan sangat baik. Menurut peneliti, kondisi tanah dan kelembapan di lokasi membantu menjaga buku itu tetap utuh. Teks yang ditulis di atas lilin juga masih bertahan selama 700 hingga 800 tahun.

Bretzel mengatakan ia hanya perlu membersihkan bagian luar buku. Bagian dalamnya tertutup sangat rapat sehingga tidak banyak kotoran masuk. Kayunya juga tidak melengkung. Lilinnya tetap utuh dan tulisannya masih bisa dibaca.

Sampul kulit buku itu dihiasi pola timbul berupa deretan kecil bunga lili. Motif ini memberi petunjuk bahwa buku tersebut bukan benda murah. Pada Abad Pertengahan, lili kerap dikaitkan dengan kemurnian, kekuasaan kerajaan, dan anugerah ilahi.

Gai mengatakan penggunaan bahasa Latin dan bentuk huruf miring juga mengarah pada pemilik dari kalangan atas. Buku itu diperkirakan digunakan antara abad ke-13 hingga akhir abad ke-14.

Menurut laporan The Independent, proses membaca ulang teksnya diperkirakan memakan waktu. Karena itu, peneliti lebih dulu memeriksa bahan buku, terutama kayu dan lilin, dengan metode ilmiah.

Arkeolog Sandra Peternek mengatakan bahan-bahan itu harus diteliti secara rinci.

Peneliti juga akan membandingkan buku tersebut dengan benda lain dari toilet yang sama. Salah satunya sisa kain sutra yang robek menjadi potongan persegi panjang. Sebagian kain itu sangat halus dan berhias.

“Mungkin itu kertas toilet, setelah kain yang dulu mewah hendak dibuang,” kata Gai.

Jika lokasi toilet itu nanti bisa dikaitkan dengan sebidang tanah tertentu, arkeolog berharap dapat menelusuri siapa penghuni atau pemiliknya lewat arsip sejarah.