JAKARTA - Kementerian Luar Negeri melakukan koordinasi dengan perwakilan Republik Indonesia dan otoritas setempat hingga menyiapkan Langkah antisipatif, menyusul penangkapan warga negara Indonesia (WNI) yang ikut berlayar dalam Global Sumud Flotilla (GSF) oleh militer Israel di perairan Siprus.
"Informasi per pagi ini, dari sembilan WNI yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), lima orang dilaporkan ditangkap militer Israel di perairan Siprus. Sementara, empat WNI di dua kapal berbeda masih berlayar di sekitar perairan Siprus," jelas Juru Bicara I Kemlu RI Yvonne Mewengkang, Selasa (19/5).
"Keempat WNI yang masih berlayar tetap dalam kondisi rawan dan sewaktu-waktu dapat mengalami intersepsi atau penangkapan oleh militer Israel," tambah Yvonne.
Lebih jauh Diplomat yang pernah bertugas di Perutusan Tetap RI untuk PBB di New York pada kurun waktu 2013-2016 ini mengungkapkan, pihaknya "berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, KBRI Roma, KBRI Amman dan KJRI Istanbul, termasuk menyiapkan langkah-langkah antisipatif seperti penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor apabila paspor WNI disita, serta dukungan medis apa bila diperlukan."
"Perwakilan RI juga melakukan pendekatan pada otoritas setempat guna memastikan akses transit dan proses kepulangan WNI dapat berjalan tanpa hambatan ke Indonesia," kata Yvonne.
"Perwakilan RI terkait selalu dalam posisi siaga guna menindaklanjuti notifikasi dari otoritas setempat," tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, militer Israel mencegat armada bantuan yang menuju Jalur Gaza, Palestina pada Hari Senin setelah berlayar dari Turki pekan lalu, dengan penyelenggara mengatakan salah satu kapal dihentikan di sebelah barat Siprus.
"Kapal-kapal militer saat ini mencegat armada kami dan pasukan IDF saat ini sedang menaiki kapal pertama kami di siang bolong," tulis Global Sumud Flotilla di X, melansir Al Arabiya dari AFP.
Armada Global Sumud terbaru adalah inisiatif ketiga dalam setahun yang bertujuan untuk mematahkan blokade Israel terhadap Gaza, yang telah mengalami kekurangan pangan, air, obat-obatan, dan bahan bakar yang parah sejak perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023.
Armada yang terdiri dari 50 kapal berlayar dari Turki pada Hari Kamis pekan lalu. Sebelumnya, armada serupa telah dicegat Israel bulan lalu. Tahun lalu, armada serupa juga dicegat oleh Israel.
GPCI sendiri dalam keterangan resminya pekan lalu mengatakan sembilan orang WNI yang tergabung dalam misi kemanusian ini yakni, Ust. Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu di Kapal Zapyro, Andi Angga Prasadewa di Kapal Josef, As’ad Aras Muhammad di Kapal Kasr-1, Hendro Prasetyo di Kapal Kasr-1, Bambang Noroyono di Kapal BoraLize, Thoudy Badai Rifan Billah di Kapal Ozgurluk, Andre Prasetyo Nugroho di Kapal RIM, serta Rahendro Herubowo di Kapal Ozgurluk.
Di sisi lain, Israel pada Hari Senin berjanji untuk memblokir kapal-kapal dalam armada tersebut, Otoritas Israel menolak klaim kekurangan bantuan, dengan mengatakan bahwa wilayah Palestina "dibanjiri" dengan pasokan.
The Times of Israel melaporkan, Angkatan Laut Israel telah mencegat misi kemanusiaan tersebut dengan pasukan komando AL Israel menaiki kapal pertama di laut lepas Siprus. Sedikitnya 16 kapal dilaporkan berhasil dicegat hingga Senin sore.
BACA JUGA:
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memuji langkah Angkatan Laut Israel yang mencegat kapal-kapal yang tergabung dalam Global Sumut Flotilla pada Hari Senin.
Yvonne menekankan, Kementerian Luar Negeri RI "mendesak Israel melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat palestina sesuai hukum humaniter internasional."
"Kemlu melalui Perwakilan RI terkait akan terus memantau perkembangan situasi, melakukan verifikasi posisi dan kondisi wni, serta menyiapkan Langkah perlindungan sesuai kebutuhan di lapangan," pungkas Yvonne.