Bagikan:

JAKARTA – Di tengah dinamika geopolitik yang terus bergejolak dan pergeseran peta kekuatan ekonomi dunia, Indonesia semakin memantapkan posisinya sebagai episentrum pertumbuhan di Asia Tenggara.

Berbicara dalam dalam "HKU Indonesia Economic Forum: Co-Creating a New Landscape for China-Indonesia Enterprise Development", Associate Vice President (Global) HKU Prof. Heiwai Tang memaparkan visi strategis mengenai peran Hong Kong yang berevolusi menjadi penghubung vital bagi arus modal, teknologi dan bakat antara daratan Tiongkok dengan Indonesia.

Era Baru Globalisasi: Strategi "China Plus One"

Berbicara kepada VOI.id di sela-sela forum Prof. Tang mengatakan, dunia telah mengalami perubahan fundamental sejak perang dagang AS-Tiongkok tahun 2018 dan krisis pandemi COVID-19. Restrukturisasi rantai pasokan global kini mengarah pada model yang lebih seimbang dan inklusif.

"Kita sedang memasuki era baru di mana rantai pasokan global sedang direstrukturisasi melalui strategi 'China Plus One'. Perusahaan kini mencoba mendiversifikasi pemasok mereka, tidak hanya dari Tiongkok, tetapi juga mencari sumber dari berbagai negara asal. Dalam konteks ini, Hong Kong, sebagai kota paling internasional di Tiongkok, berada tepat di titik tengah antara daratan Tiongkok dan Asia Tenggara," ujar Prof. Tang, seperti dikutip (14/5).

Menurutnya, tren "going global" dari perusahaan-perusahaan Tiongkok memberikan peluang emas bagi Indonesia. Sebagai ekonomi terbesar di ASEAN dengan populasi hampir 300 juta jiwa, Indonesia menjadi destinasi utama ekspansi rantai pasok dan pasar konsumen baru bagi korporasi Tiongkok yang ingin mendunia melalui gerbang Hong Kong.

Kunjungan delegasi bisnis yang dipimpin HKU kali ini membawa lebih dari 20 pemimpin bisnis papan atas dari daratan Tiongkok.

HKU Indonesia Economic Forum
"HKU Indonesia Economic Forum: Co-Creating a New Landscape for China-Indonesia Enterprise Development". (Rifa Yusya Adilah/VOI)

Prof. Tang menekankan, misi ini bukan sekadar kunjungan bisnis biasa, melainkan implementasi strategi 'bringing in and going out', membawa pengetahuan global ke kawasan dan membantu pemimpin bisnis Tiongkok memahami pasar luar negeri secara mendalam.

Selama empat hari di Jakarta, para delegasi mempelajari kebijakan industri baru dan iklim investasi asing langsung (FDI) di Indonesia. Prof. Tang mencatat adanya peningkatan kepercayaan yang signifikan dari para investor Tiongkok terhadap stabilitas dan potensi sektor prioritas yang didukung pemerintah Indonesia.

Reinterpretasi Ekonomi Tiongkok dan Inovasi Teknologi

Menanggapi persepsi dunia terhadap Tiongkok, Prof. Tang mengingatkan agar pelaku bisnis internasional tidak lagi melihat Tiongkok hanya sebagai negara berkembang. Dalam empat dekade terakhir, Tiongkok telah bertransformasi menjadi rumah bagi raksasa teknologi seperti Huawei, BYD, dan Tencent.

"Tiongkok hari ini adalah pemimpin dalam AI dan ekonomi digital. Kita harus melihatnya sebagai pasar dengan dividen teknologi yang besar. Namun, sangat penting untuk memahami perbedaan budaya dan politik antara Tiongkok dan negara tuan rumah investasi seperti Indonesia. Perjalanan ini bertujuan mengedukasi para pemimpin bisnis untuk mengidentifikasi peluang dinamis sambil menghormati perbedaan tersebut," urai Prof. Tang.

Selain Prof. Tang, forum ini juga menghadirkan perspektif dari pelaku industri. Chairman Osda Solar Zhang Hongyan menyoroti potensi besar Indonesia dalam transisi energi hijau. Menurutnya, kolaborasi teknologi manufaktur sel surya dari Tiongkok dapat mempercepat target net-zero emission Indonesia.

Sementara itu, Jack Sheng dari YOTAI menekankan pentingnya integrasi sistem penyimpanan energi dan infrastruktur digital. Ia melihat bahwa efisiensi yang telah dicapai industri Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir dapat diadaptasi oleh pelaku bisnis Indonesia untuk meningkatkan produktivitas di rantai nilai global.

HKU Indonesia Economic Forum
"HKU Indonesia Economic Forum: Co-Creating a New Landscape for China-Indonesia Enterprise Development". (Rifa Yusya Adilah/VOI)

Peran Akademisi dalam Membangun Kepercayaan

Prof. Tang menekankan, institusi akademik seperti HKU memiliki nilai unik sebagai platform terbuka untuk pertukaran pengetahuan dan dialog antar manusia. Di tengah volatilitas geopolitik, universitas berperan membangun kepercayaan (trust building) yang menjadi fondasi utama kesuksesan bisnis lintas negara.

Forum ekonomi komprehensif yang diadakan oleh University of Hong Kong (HKU) di Four Seasons Hotel Jakarta, Rabu (13/5) ini fokus pada penguatan kerja sama ekonomi, investasi, dan teknologi antara Indonesia, Tiongkok dan Hong Kong.

Dalam forum ini, turut hadir pembicara utama atau keynote speakers yakni Staf Khusus Wakil Presiden RI, Dr. Achmad Adhitya yang memaparkan arah kerja sama ekonomi dan peluang investasi dari perspektif pemerintah Indonesia.

Minister Counsellor Kedubes Tiongkok, Wang Liping yang membahas penguatan hubungan bilateral dan visi kolaborasi masa depan kedua negara.

Ketua Umum APINDO, Shinta Kamdani yang memaparkan perspektif dunia usaha mengenai tantangan operasional dan peluang bisnis bagi pengusaha lokal di tengah kemitraan internasional.

Forum ini dihadiri oleh jajaran eksekutif dari berbagai sektor, akademisi HKU, serta delegasi bisnis Tiongkok termasuk perwakilan dari industri energi terbarukan, teknologi digital, dan logistik.

Kegiatan ini juga diisi diskusi panel yang melibatkan pakar ekonomi untuk menavigasi lanskap geopolitik Asia yang saat ini dianggap sebagai kawasan paling damai dan fokus pada pengurangan kemiskinan serta kesenjangan melalui pertumbuhan ekonomi.