JAKARTA - Selama satu hari pada akhir April, India menguasai daftar 50 kota terpanas di dunia. Bukan satu-dua kota. Seluruh daftar, dari peringkat pertama sampai ke-50, berada di negara itu.
Mengutip The Independent, Rabu, 13 Mei, platform pemantau kualitas udara AQI menyebut kejadian pada 27 April itu “tidak memiliki preseden modern” dan “tidak normal”.
“Ini bukan April yang normal,” kata AQI.
Rata-rata suhu puncak di 50 kota tersebut mencapai 44,7 derajat Celsius. Banda, di negara bagian Uttar Pradesh, mencatat suhu tertinggi dunia hari itu, yakni 46,2 derajat Celsius.
Bahkan Solapur, kota dengan suhu paling rendah dalam daftar, tetap mencatat 41,9 derajat Celsius. AQI menyebut angka itu akan dianggap sebagai darurat kesehatan masyarakat di banyak wilayah Eropa.
Sebagian besar kota terpanas berada di sabuk panas pedalaman India, termasuk Uttar Pradesh, Madhya Pradesh, Maharashtra, dan Rajasthan. Suhu malam hari pun tetap tinggi, membuat tubuh sulit pulih setelah terpukul panas sepanjang siang.
BACA JUGA:
Klimatolog sekaligus sejarawan cuaca Maximiliano Herrera menyebut gelombang panas itu termasuk salah satu yang paling parah untuk April. Ia mengatakan puluhan, bahkan mungkin ratusan, rekor panas April telah pecah.
Para ilmuwan mengaitkan panas ekstrem yang makin berat dengan krisis iklim. Musim panas di India datang lebih awal dan makin intens. Sejumlah ahli memperingatkan, pada 2050 sebagian wilayah India dapat menghadapi panas yang melampaui batas aman tubuh manusia.
AQI menyebut kondisi ini sebagai sinyal darurat kesehatan. Ketika banyak kota mencatat suhu rata-rata di atas 37,5 derajat Celsius, risiko penyakit akibat panas dapat berubah menjadi ancaman massal.
Kekhawatiran makin besar karena musim panas berikutnya bisa lebih berat. India juga menghadapi kekurangan bahan bakar akibat gangguan rantai pasok yang dipicu perang AS-Israel terhadap Iran. Padahal, kebutuhan pendingin ruangan biasanya melonjak saat gelombang panas.
Departemen Meteorologi India juga memperkirakan hujan monsun tahun ini berada di bawah rata-rata. Artinya, risiko kekeringan bisa ikut meningkat.