Bagikan:

JAKARTA — Pemerintah mulai mematangkan konsep giant sea wall atau tanggul laut raksasa di Pantai Utara Jawa. Proyek ini disiapkan untuk menghadapi ancaman penurunan muka tanah dan banjir rob yang makin menekan kawasan pesisir utara Jawa.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan kawasan Pantura kini menghadapi ancaman serius yang berdampak langsung pada jutaan warga dan pusat ekonomi nasional.

“Kondisinya hari ini menghadapi tantangan, baik dari land subsidence, penurunan permukaan tanah, maupun banjir rob akibat naiknya permukaan air laut,” kata AHY di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, 12 Mei.

Menurut AHY, proyek ini tidak hanya bicara perlindungan pesisir, tetapi juga penyelamatan kawasan industri, sentra ekonomi, dan kawasan ekonomi khusus di Pantura.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf mengatakan proyek giant sea wall dibagi dalam 15 segmen dari Serang hingga Gresik. Namun seluruh titik masih dalam tahap asesmen.

“Terutama masalah rob, masalah land subsidence. Di situ ada kegiatan ekonomi contoh petani, nelayan, petambak,” kata Didit.

Ia mengatakan pemerintah harus menghitung dampak sosial ekonomi sebelum pembangunan dilakukan. Sebab kawasan Pantura dipenuhi aktivitas masyarakat kecil yang bergantung pada laut dan pertanian.

Sementara Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengatakan proyek giant sea wall juga disiapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Tidak hanya dibangun giant sea wall-nya aja tapi juga titik-titik untuk meningkatkan ekonomi, meningkatkan investasi,” ujar Rosan.

Menurut Rosan, pemerintah masih menyempurnakan master plan dan mengkaji potensi investasi di kawasan tersebut.