JAKARTA - Otoritas Iran mengeksekusi seorang pria yang dituduh menjadi mata-mata untuk badan intelijen Amerika Serikat dan Israel, lapor media pemerintah IRNA.
Pria bernama Erfan Shakourzadeh dieksekusi karena bekerja sama dengan Badan Intelijen Pusat AS (CIA) dan dinas intelijen Israel Mossad.
Shakourzadeh direkrut sebagai pekerja proyek, mengingat keahliannya, oleh salah satu organisasi ilmiah negara yang aktif di bidang satelit, menurut pengumuman dari Kehakiman Iran pada Hari Senin, seperti melansir IRNA (11/5).
Saat bekerja tersebut, Shakourzadeh memulai kontak dengan dinas intelijen musuh, termasuk CIA dan khususnya Mossad. Informasi yang coba diberikan terpidana kepada musuh bersifat rahasia.
Pada tahap awal, setelah mengisi formulir kerja sama dengan Mossad, Shakourzadeh bertukar informasi dengan dinas tersebut melalui email – informasi awal seperti detail pribadi dan keluarganya, tempat kerja, jenis akses, misi, dan tugasnya di tempat kerjanya.
Setelah beberapa waktu, seseorang menghubungi Shakourzadeh lagi melalui LinkedIn, mengaku sebagai warga Iran yang tinggal di Kanada yang telah melihat resume-nya.
Orang ini, yang sebenarnya adalah agen Mossad, menawarkan Shakourzadeh kesempatan untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek berbasis dolar di luar negeri. Setelah menjalin kontak dengan Mossad, Shakourzadeh kemudian mencoba menghubungi CIA.
Menurut dokumen yang ditemukan di antara pertukaran email individu yang dihukum tersebut dengan agen CIA, ia meminta agar mereka membantunya mendapatkan visa AS dan kesempatan untuk belajar di Negeri Paman Sam.
Sementara itu, melansir Al Arabiya dari AFP, Shakourzadeh disebutkan sebagai mahasiswa pascasarjana dari universitas elit Tehran. Shakourzadeh (29) digantung setelah dinyatakan bersalah.
Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights dan Hengaw (IHR) mengatakan, Shakourzadeh adalah mahasiswa di Universitas Sains dan Teknologi Iran yang bergengsi dan telah menulis pesan sebelum eksekusinya yang menolak tuduhan tersebut sebagai rekayasa.
Menggambarkan Shakourzadeh sebagai "mahasiswa elit," IHR mengatakan dia ditahan "dalam isolasi dan disiksa serta dipaksa untuk memberikan pengakuan palsu."
Dia adalah orang kelima yang dieksekusi atas tuduhan spionase sejak awal perang pada akhir Februari.
Pihak berwenang juga telah mengeksekusi 13 pria yang didakwa atas protes Januari, satu lagi atas demonstrasi tahun 2022, dan 10 orang yang dituduh memiliki hubungan dengan kelompok oposisi terlarang, menurut IHR.
Kelompok hak asasi manusia telah berulang kali menuduh Iran menggunakan hukuman mati sebagai alat untuk menyebarkan ketakutan di masyarakat selama masa ketegangan internasional dan domestik.
Hengaw mengatakan, Shakourzadeh yang ditangkap pada Februari 2025, dieksekusi saat fajar di penjara Ghezel Hesar di luar Tehran setelah tiba-tiba dipindahkan dari penjara Evin di ibu kota awal bulan ini.
Setelah lulus dengan gelar di bidang teknik elektro dari Universitas Tabriz, "dia adalah mahasiswa master berprestasi di bidang teknik kedirgantaraan di Universitas Sains dan Teknologi Iran," kata Hengaw.
Dia "dikenai penyiksaan fisik dan psikologis yang berat selama sembilan bulan dalam isolasi untuk mendapatkan pengakuan paksa" setelah penangkapannya, katanya.
BACA JUGA:
Dalam pesan yang diterbitkan oleh Hengaw dan IHR, Shakourzadeh mengatakan tuduhan tersebut "tidak berdasar" dan ia telah "dipaksa untuk membuat pengakuan palsu" karena penyiksaan.
"Jangan biarkan nyawa tak berdosa lainnya hilang dalam diam dan tanpa perhatian publik," katanya.
Iran adalah negara yang paling banyak melakukan eksekusi di dunia setelah China, menurut kelompok hak asasi manusia. Tahun lalu, Iran menggantung setidaknya 1.639 orang, menurut angka dari IHR, yang telah mencatat setidaknya 190 eksekusi sejauh ini pada tahun 2026.