JAKARTA - Kuil Jogyesa di Seoul punya cara tak biasa menarik minat anak muda: menahbiskan robot humanoid sebagai biksu. Namanya Gabi. Tingginya 130 sentimeter. Ia memakai jubah kuning safron dan menerima lima sila Buddha.
Mengutip The Guardian, Jumat, 9 Mei, upacara itu digelar pada 6 Mei di halaman Kuil Jogyesa, markas Ordo Jogye, aliran Buddha terbesar di Korea Selatan.
Para biksu mengalungkan tasbih 108 butir ke leher Gabi. Mereka juga menempelkan stiker festival lampion di lengan robot itu sebagai pengganti ritual yeonbi, yaitu sentuhan dupa menyala ke kulit.
Gabi kemudian menerima sertifikat resmi. Di bagian yang biasanya berisi tanggal lahir manusia, tertulis tanggal pembuatannya: 3 Maret 2026.
“Awalnya kami membicarakannya secara santai,” kata Yang Mulia Sungwon, direktur urusan kebudayaan Ordo Jogye. “Hampir seperti lelucon. Tapi semakin kami pikirkan, hal itu menjadi semakin serius.”
BACA JUGA:
Menurut Sungwon, robot makin cepat masuk ke kehidupan manusia. Orang juga mulai terbiasa hidup berdampingan dengan teknologi itu.
“Robot menjadi bagian dari komunitas kita,” katanya dikutip The Guardian.
Penahbisan Gabi terjadi saat Ordo Jogye menghadapi penurunan minat. Kini hanya 16 persen warga Korea Selatan yang mengaku sebagai penganut Buddha, turun dari sekitar 23 persen pada 2005. Di kalangan usia 20-an, angkanya tinggal 8 persen.
Jumlah biksu baru juga menyusut. Tahun lalu, Ordo Jogye hanya menahbiskan 99 biksu, turun dari lebih dari 200 orang satu dekade lalu.
Karena itu, Ordo Jogye mencoba mendekati anak muda lewat cara yang lebih segar. Di bawah Yang Mulia Jinwoo, mereka memakai merchandise, aplikasi meditasi, dan pemasaran viral. Para pengamat menyebutnya “Buddhisme hip”.
Dalam upacara tersebut, Gabi berjalan di depan para biksu dan umat, membungkuk ke arah kuil, lalu menerima lima sila Buddha.
Sila untuk Gabi disesuaikan. Robot itu dilarang menyakiti makhluk hidup, merusak robot atau benda lain, menipu, dan bersikap tidak hormat kepada manusia.
Sila kelima paling unik adalah Gabi dilarang mengisi daya secara berlebihan.
“Manusia minum alkohol dan melakukan sesuatu secara berlebihan. Jadi apa padanannya bagi robot?” kata Sungwon.
Sungwon mengatakan ia menyusun aturan itu sendiri lalu mengujinya menggunakan ChatGPT dan Gemini. Namun, menurutnya, ChatGPT tidak sepenuhnya memahami makna sila karena sila bukan sekadar nasihat, melainkan larangan.
Sungwon mengatakan upacara itu bukan semata soal apakah robot bisa menjadi Buddhis. Pesan utamanya justru untuk manusia pembuat robot. Teknologi, katanya, harus dirancang agar mampu mengikuti prinsip etika.
Gabi sendiri belum secanggih bayangan banyak orang. Mengajarinya menangkupkan tangan untuk berdoa saja sulit.
Pekan depan, Gabi akan bergabung dengan tiga robot lain, Seokja, Mohee, dan Nisa, dalam Parade Lampion Teratai untuk memperingati hari lahir Buddha di Seoul.
Bagi Sungwon, yang penting anak muda datang dulu ke kuil. “Kami tidak bisa memaksa orang menjadi Buddhis,” katanya.