Bagikan:

JAKARTA – Kriminolog Tegar Bimantoro menilai kemunculan kembali aktivitas terorisme di wilayah Poso, Sulawesi Tengah, menunjukkan masih aktifnya jaringan komunikasi kelompok radikal, termasuk melalui platform digital.

Hal itu disampaikan Tegar menanggapi penangkapan delapan terduga teroris oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri di wilayah Poso dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Menurut Tegar, fenomena tersebut dapat dianalisis menggunakan teori Differential Association dari Edwin Sutherland, yang menyebut perilaku kriminal dipelajari melalui interaksi sosial.

“Fenomena ini dapat dianalisis melalui teori Differential Association dari Edwin Sutherland, yang menyatakan bahwa perilaku kriminal bukan merupakan bawaan, melainkan dipelajari melalui interaksi sosial,” ujar Tegar, Kamis 7 Mei.

Ia menjelaskan, penangkapan delapan terduga teroris menjadi indikasi bahwa lingkaran komunikasi kelompok radikal masih terus berjalan. Menurutnya, kelompok teror memiliki jaringan komunikasi eksklusif yang kini berkembang melalui ruang digital.

“Melalui percakapan daring, proses transfer ideologi dan penguatan motivasi terorisme terus berlangsung. Pengaruh lingkungan, baik melalui ikatan primordial maupun jaringan kelompok, kerap lebih kuat dibanding intervensi negara,” katanya.

Tegar menilai, langkah penegakan hukum melalui penangkapan perlu dibarengi strategi pencegahan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk memutus rantai penyebaran paham radikal.

“Negara harus hadir dengan strategi pencegahan yang adaptif, terutama dalam mengawasi ruang digital yang kini menjadi sarana utama propaganda dan rekrutmen. Tanpa pengawasan yang efektif di ruang privat digital, sel-sel jaringan akan terus menemukan celah untuk tumbuh kembali,” ujarnya.

Sebelumnya, Densus 88 Antiteror Polri menangkap delapan terduga teroris di wilayah Poso dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Penangkapan tersebut kembali menyoroti rekam jejak panjang terorisme di kawasan itu, yang sebelumnya dikenal sebagai basis pelatihan dan gerilya kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Meski kekuatan kelompok tersebut sempat melemah setelah serangkaian operasi keamanan, penangkapan terbaru menunjukkan adanya upaya regenerasi dari sel-sel radikalisme di wilayah tersebut.