JAKARTA - Dorongan membawa film Indonesia ke panggung global kembali diuji. Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka pintu kolaborasi, tetapi skema pembiayaan dan kekuatan ekosistem daerah jadi penentu apakah langkah ini berujung hasil atau sekadar wacana.
Dalam pertemuan di Kementerian Kebudayaan, Senin, 4 Mei, rumah produksi Bintang Cahaya Sinema memaparkan rencana membawa 15 proyek ke Marche du Film di Festival de Cannes 2026. Tiga judul sudah masuk tahap produksi yakni Petarung, Di Sini Bukan Rumahku (diangkat dari kisah Hanako), dan Paraji: Keris Brojol.
CEO Bintang Cahaya Sinema, Rizka Shakira, menyebut keikutsertaan di Cannes bukan sekadar promosi. Ia menargetkan akses jejaring dan peluang kerja sama lintas negara. “Kami berharap dukungan pemerintah karena forum ini membuka relasi dengan sineas global,” ujarnya.
Di sisi lain, mereka juga menyiapkan festival film di Kuningan, Jawa Barat. Langkah ini diarahkan untuk menggerakkan produksi lokal dan membuka ruang bagi aktor serta sutradara daerah. Riset budaya untuk proyek Paraji: Keris Brojol juga disiapkan, dengan harapan melibatkan narasumber pemerintah.
BACA JUGA:
Aktor Ence Bagus menilai keterbatasan bioskop di daerah tidak boleh jadi alasan stagnasi. Ia mendorong format festival outdoor sebagai solusi distribusi sekaligus ruang tumbuh ekosistem lokal.
Menanggapi itu, Fadli Zon menegaskan dukungan pemerintah akan diarahkan pada skema konkret, bukan sekadar fasilitasi simbolik. Salah satu yang ditawarkan adalah mekanisme matching fund melalui Dana Indonesiaraya dan kolaborasi dengan lembaga yang diakui pemerintah.
Namun, tantangan utamanya ada pada konsistensi pendanaan dan kesiapan ekosistem. Tanpa itu, ambisi menembus pasar global berisiko berhenti di tahap presentasi proyek.
Kementerian juga menjanjikan dukungan lain, mulai dari pemutaran film, penguatan jejaring, hingga pengembangan konten berbasis budaya. Targetnya agar kehadiran Indonesia di Cannes tidak hanya ramai di proposal, tetapi terlihat di layar dan pasar.