Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Kebudayaan menghadiri gelaran Festival Film Cannes 2025 sebagai wujud komitmen Indonesia dalam mendorong pertumbuhan industri film nasional di panggung perfilman global. Sederet karya membanggakan dari para sineas dan produser Tanah Air diperkenalkan di hadapan para stakeholders perfilman sebagai karya seni yang menjanjikan.

Tidak hanya menunjukkan identitas, jati diri, dan budaya bangsa Indonesia di panggung global, karya-karya yang dibawa juga menunjukkan kesiapan sineas Indonesia untuk bersaing di tingkat dunia.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon bersama beberapa sineas dan produser film hadiri Festival Film Cannes 2025, festival film terbesar di dunia, ajang bergengsi bagi insan perfilman dari seluruh dunia. Menbud hadir bersama Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha dan beberapa perwakilan aktor hingga sutradara kenamaan.

Dalam helatan tersebut diputar perdana film Renoir yang merupakan hasil produksi KawanKawan Media bersama dengan para produser film dari Jepang, Prancis, Singapura, dan Filipina, yang bersaing dalam kompetisi utama Festival Film Cannes 2025. Dalam kesempatan tersebut, Mebud Fadli Zon juga bertemu dengan Wakil Gubernur Daerah Khusus Jakarta, Rano Karno, yang turut menghadiri premier Renoir.

KawanKawan Media adalah sebuah perusahaan produksi film yang didirikan oleh Yulia Evina Bhara tahun 2016 dan telah banyak berkolaborasi dengan industri film internasional. Bahkan pada 2023 lalu, ia berhasil memenangkan penghargaan Semaine de le Critique du Festival melalui film Tiger Stripes. Pada tahun ini, Yulia dipercaya menjadi salah satu juri mewakili Indonesia dalam kategori penghargaan tersebut.

“Merupakan sebuah kebanggaan untuk melihat banyak film Indonesia dan anak bangsa yang membawa nama Indonesia di panggung perfilman dunia. Berbagai pencapaian ini menjadi bukti bahwa film Indonesia bukan hanya dinikmati di negeri sendiri, namun juga menjadi idola di panggung perfilman global,” ujar Menbud Fadli Zon.

Dalam kunjungannya di Cannes, Menbud Fadli Zon juga bertandang ke Villages International, sebuah ruang kolaborasi global yang menampilkan industri film lebih dari 90 negara.

“Di sini saya bertemu dengan banyak sineas dan produser film yang berasal dari Indonesia yang karyanya telah mendunia. Berbagai film Indonesia yang turut hadir di Cannes, seperti Pangku, Renoir, Sleep No More, Ikatan Darah, Timur, hingga Jumbo menunjukkan ekosistem perfilman Indonesia yang semakin kuat,” pungkasnya.

Selain itu, IP animasi, seperti Bandits of Batavia, Locust, dan Jitu yang akan mengikuti Spotlight Asia di Cannes, menunjukkan bahwa Indonesia siap menjadi pemain utama di industri kreatif global dan mengangkat kisah-kisah lokal Indonesia.

Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan ekosistem film nasional.

“Dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta. Salah satu skema yang efektif dalam mendorong tercapainya ekosistem film yang tangguh adalah dengan skema Public Private Partnership (PPP) yang melibatkan seluruh pihak,” tegas Menbud Fadli Zon.